Jawaban Ali Ketika Ditanya tentang Fitnah di Zamannya

0
fitnah di zaman ali
ilustrasi

Sejak paruh kedua kepemimpinan Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu, mulai terjadi fitnah di tengah kaum muslimin. Fitnah ini belum terjadi pada masa Khalifah Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Puncak fitnah itu adalah pembunuhan Utsman bin Affan.

Fitnah tak berhenti di situ. Pada masa kepemimpinan Khalifah Ali bin Abu Thalib radhiyallahu ‘anhu, fitnah itu semakin menjadi. Mulai dari pembangkangan, perpecahan, hingga perang saudara.

Suatu hari ada seorang laki-laki bertanya kepada Khalifah Ali, “Mengapa orang-orang menyelisihi dirimu sedangkan mereka tidak menyelisihi Abu Bakar dan Umar?”

Dengan mantap Ali menjawab, “Karena Abu Bakar dan Umar memimpin orang yang seperti diriku. Sedangkan aku memimpin orang yang seperti dirimu.”

Baik buruknya sebuah negeri tidak hanya ditentukan oleh pemimpinnya, tetapi juga ditentukan oleh rakyatnya. Terjadinya fitnah pada paruh kedua masa kepemimpinan Utsman dan masa kepemimpinan Ali bukan karena pemimpinnya tidak baik. Bahkan, mereka adalah tokoh-tokoh terbaik. Namun, justru disebabkan kondisi rakyatnya yang kondisinya berbeda dibandingkan masa sebelumnya.

Baca juga: Istri Abu Bakar

Tiga Faktor Terjadinya Fitnah

Prof. Dr. Ali Muhammad ash-Shalabi menjelaskan ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya fitnah pada masa itu. Antara lain, pertama, munculnya kemakmuran sejak masa Utsman. Pada saat itu, terjadi ekspansi besar-besaran sehingga wilayah Islam menjadi semakin luas dan seiring dengan itu semakin banyak harta dunia terbuka. Harta yang melimpah membuat banyak orang mulai terlena dan mencintai kemewahan. Harta selalu menjadi fitnah pada setiap zaman termasuk juga pada zaman itu.

Manusia hidup santai dengan segala kenikmatannya dan mulai membenci khalifah mereka. Usman berkata kepada Abdurrahman bin rabiah sungguh ketamakan telah menjadikan kebanyakan orang menjadi sombong oleh karena itu cegahlah mereka dan janganlah engkau membenci kaum muslimin karena saya khawatir mereka terkena fitnah.

Kedua, karakter perubahan masyarakat. Banyak perubahan sosial yang tidak disadari ketika pemerintahan Islam semakin luas. Terjadi perubahan komposisi masyarakat dan ketidakseimbangan. Berbagai latar belakang ras, warna kulit, bahasa, budaya, dan adat mewarnai mereka. Masyarakat semakin heterogen sementara keimanan tidak kokoh membuat mereka lebih rentan terhadap provokasi dan perpecahan.

Ketiga, munculnya generasi baru yang berbeda dari generasi sebelumnya. Tidak seperti sahabat Nabi yang imannya kokoh dan komitmen terhadap Al-Qur’an dan Sunnah, mereka kebanyakan baru masuk Islam dari daerah-daerah yang ditaklukkan. Sebagian mereka adalah orang munafik yang menyembunyikan permusuhannya kepada Islam seperti Abdullah bin Saba’. [Muchlisin BK/Kisah Hikmah]

Artikel sebelumnyaMengapa Sufyan Ats-Tsauri Digelari Amirul Mukminin fil Hadits?
Artikel berikutnyaKeadaan Manusia Saat Dibangkitkan pada Yaumul Ba’ats