Beranda Profil Profil Umara Muawiyah bin Yazid, Melepas Tahta Demi Surga

Muawiyah bin Yazid, Melepas Tahta Demi Surga

0
muwaiyah bin yazid
ilustrasi

Angin gurun berbisik lirih di antara celah-celah bukit batu Makkah, membawa aroma debu dan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya reda. Di bawah langit yang membara, Panglima Al-Hushain bin An-Namir menatap dinding-dinding kota dengan pandangan masygul. Tugas untuk menundukkan Abdullah bin Zubair telah menemui jalan buntu yang sunyi. Pasukan Hijaz kokoh bagai karang, menolak tunduk pada titah Damaskus.

Namun, takdir memiliki caranya sendiri untuk memutar kemudi sejarah. Sebuah kabar duka berembus dari utara: Khalifah Yazid bin Muawiyah telah mangkat. Berita itu meruntuhkan sisa-sisa ambisi perang di dada Al-Hushain. Dengan helaan napas berat, sang panglima menyerukan gencatan senjata, sebuah tawaran damai yang disambut Abdullah bin Zubair dengan tangan terbuka.

Seketika, atmosfer lembah suci berubah drastis. Permusuhan yang tadinya menggelegak seolah melebur bersama sapuan angin malam. Dua pasukan yang kemarin saling menghunus pedang, kini membaur tanpa sekat, seakan-akan duka dan kerinduan akan kedamaian telah menyatukan hati mereka. Prajurit-prajurit dari tanah Syiria melangkah tanpa rasa takut ke dalam pelataran Masjidil Haram. Mereka mengenakan kain ihram putih yang suci, hanyut dalam lantunan zikir saat melangkah pelan melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah, lalu berlari-lari kecil di antara bukit Shafa dan Marwah. Di tanah haram ini, kilatan pedang digantikan oleh air mata tobat dan kerinduan pada Sang Penguasa Semesta.

Bisikan Perdamaian di Sisi Ka’bah

Di tengah riuh rendahnya umat yang sedang berthawaf, takdir mempertemukan dua musuh bebuyutan dalam jarak yang begitu dekat. Panglima Al-Hushain bin An-Namir melangkah pelan, matanya menangkap sosok wibawa Abdullah bin Zubair yang sedang khusyuk mengitari Baitullah. Dengan langkah terukur, Al-Hushain mendekat. Jemarinya yang biasa menggenggam hulu pedang kini menyentuh lembut lengan Abdullah. Sebuah sentuhan yang mengejutkan, namun penuh isyarat. Sambil terus melangkah beriringan mengikuti arus manusia, sang panglima mendekatkan bibirnya ke telinga Ibnu Zubair, berbisik dengan nada yang teramat lirih.

“Apakah Anda mau berangkat bersamaku ke Syiria?” bisik Al-Hushain, matanya menatap tajam namun penuh harap. “Aku bersumpah akan mengerahkan seluruh pengaruh dan dayaku agar orang-orang di sana mengangkat Anda sebagai khalifah kaum muslimin. Negeri itu sedang goyah, dan mereka butuh sosok seperti Anda.”

Namun, harapan Al-Hushain runtuh dalam sekejap. Abdullah bin Zubair menarik lengannya dengan sentakan kasar. Wajahnya mengeras, mencerminkan keteguhan hati yang tak tergoyahkan oleh takhta gurun Syiria. Dengan suara lantang yang membelah keheningan zikir di sekeliling mereka, ia menjawab tanpa ragu.

“Bagi saya, tidak ada pilihan lain kecuali pedang dan perang!” seru Abdullah, suaranya menggelegar. “Setiap satu nyawa yang gugur di tanah suci Hijaz ini, harus ditebus dengan sepuluh nyawa yang melayang di bumi Syiria!”

Al-Hushain tertegun, kecewa menyelimuti raut wajahnya yang legam oleh matahari gurun. Ia menggelengkan kepala perlahan, menatap sang tokoh Hijaz dengan pandangan mencemooh. “Sungguh, bohong besar orang-orang yang selama ini menganggap Anda sebagai cendekiawan Arab,” balas Al-Hushain dengan getir. “Aku berbicara kepadamu dengan berbisik, rahasia, penuh siasat… tetapi engkau justru menjawabnya dengan berteriak keras ke seluruh penjuru.”

Kemelut Istana Damaskus

Tanpa kesepakatan, Panglima Al-Hushain akhirnya menarik mundur seluruh pasukannya kembali ke utara, meninggalkan bumi Makkah yang mulai berbenah. Tawaran sang panglima malam itu bukanlah sekadar basa-basi politik. Di jantung Daulah Umayyah, Damaskus sedang didera badai ketidakpastian. Sepeninggal Yazid, tampuk kekuasaan dijatuhkan ke pundak putranya yang masih sangat muda, Muawiyah bin Yazid. Pemuda berusia dua puluh tiga tahun itu mendapati dirinya terbangun di atas singgasana yang tidak pernah ia inginkan, dikelilingi oleh intrik istana yang pekat dan berbau darah.

Sangat berbeda dengan mendiang ayahnya yang gemar akan kemegahan duniawi, Muawiyah muda adalah jiwa yang sunyi, seorang zahid yang hatinya terpaut pada keindahan akhirat. Hari-harinya dihabiskan dalam sujud panjang dan untaian doa, jauh dari hiruk-pikuk politik. Baginya, jubah khilafah yang dipasangkan di pundaknya bukanlah sebuah kehormatan, melainkan beban berat yang siap meremukkan tulang-tulang mudanya. Ia sadar betul bahwa dirinya adalah seorang ahli agama, bukan seorang negarawan yang fasih bersiasat. Sementara itu, di luar dinding istana, bumi Syiria terus bergolak oleh ketidakpuasan, dan gaung pengaruh Abdullah bin Zubair dari tanah Hijaz kian hari kian meluas bagai api yang melahap jerami kering.

Hanya tiga bulan Muawiyah mampu bertahan di tengah badai tersebut. Hingga pada suatu hari yang menyesakkan, ia mengumpulkan para tokoh istana dan pemuka keluarga besar Bani Umayyah. Di atas mimbar, dengan suara yang bergetar penuh keyakinan, pemuda saleh ini menyatakan pengunduran dirinya dari jabatan khalifah. Ruangan seketika riuh. Para tetua Bani Umayyah mendesaknya dengan panik, meminta agar ia setidaknya menunjuk satu nama sebagai pengganti demi mencegah pertumpahan darah kaum muslimin.

Namun, cucu dari sang pendiri daulah itu menggeleng tegas. “Aku bukan seperti Abu Bakar yang memiliki ketajaman mata batin untuk menunjuk seorang pengganti,” ucapnya lantang namun tenang. “Dan aku belum menemukan satu pun di antara kalian yang memiliki keutamaan agung layaknya Umar bin Al-Khathab. Aku pun tak sepadan dengan Umar yang bisa membentuk dewan syura. Kalian lebih tahu tentang urusan kalian, maka pilihlah orang yang kalian kehendaki.”

Akhir Hayat yang Sunyi

Sejak detik itu, Muawiyah bin Yazid melepaskan segala kemegahan dunia. Ia memilih jalan uzlah, mengasingkan diri dari gemerlap istana ke dalam kamar sunyi, memenuhi hari-harinya dengan tilawah. Namun, kedamaian itu tak berlangsung lama. Menjelang akhir tahun 64 Hijriah, dalam usianya yang masih sangat muda, tubuhnya yang ringkih menyerah pada maut. Beberapa catatan sejarah berbisik lirih bahwa penyakit yang ia derita kian parah semenjak naik takhta, hingga ia bahkan tak pernah sempat melangkah keluar pintu istana atau mengimami shalat untuk rakyatnya. Namun, di sudut-sudut pasar Damaskus, orang-orang berbisik dengan ngeri bahwa sang pemuda saleh sebenarnya telah diracun secara diam-diam oleh tangan-tangan hitam yang haus kekuasaan.

Konon, di ranjang kematiannya, saat napasnya kian tersengal, seseorang mendekat dan berbisik, “Wahai Khalifah, tidakkah engkau ingin menentukan siapa yang akan menggantikan posisimu?”

Muawiyah memejamkan mata, mengulas senyum getir yang penuh ketulusan, “Aku belum pernah mencicipi kelezatan dan manisnya kekuasaan itu, lalu mengapa di akhir hayatku ini aku harus menanggung kegetiran dan pertanggungjawabannya di hadapan Allah?”

Wafatnya Muawiyah menjadi pemantik badai yang merobek wilayah Syam. Perpecahan pecah seketika antara wilayah Syiria dan Palestina. Sebagian penduduk yang lelah dengan konflik mulai memalingkan wajah ke arah Makkah, berniat membaiat Abdullah bin Zubair. Terlebih, wilayah subur Irak dan Iran telah jatuh ke dalam genggaman Ibnu Zubair, memaksa Gubernur Abdullah bin Ziyad lari terbirit-birit mencari perlindungan di Damaskus. Kabar angin bahkan menyebutkan bahwa bumi piramida Mesir pun telah mengirimkan utusan, menyatakan ikrar setia pada sang penguasa Hijaz.

Syam terbelah menjadi faksi-faksi yang saling mengintai. Dhahak bin Qais memimpin para pendukung Ibnu Zubair di jantung Syam, sementara di utara, kota Hims dan Halab bergolak di bawah komando Nu’man bin Basyir Al-Anshari. Kekuasaan Bani Umayyah berada di titik nadir, rapuh dan nyaris runtuh.

Andaikan dahulu Abdullah bin Zubair menerima bisikan Panglima Al-Hushain untuk melangkah ke Syiria, sejarah mungkin akan mencatat akhir yang berbeda bagi kekhilafahan Islam. Namun, bayang-bayang tragedi memilukan yang menimpa Husain bin Ali di Karbala terlalu membekas di benak Abdullah. Ia memilih bertahan di tanah haram, memusatkan seluruh energinya untuk membangun kembali Baitullah yang sempat rusak akibat perang, meruntuhkan dinding-dinding tua Ka’bah untuk mendirikannya kembali dengan fondasi yang lebih kokoh, lalu menutupinya dengan tirai tenunan indah dari Mesir, membiarkan takdir Syiria berputar di tangan takdir yang lain. []

Sumber:

  • Tarikh Khulafa’ karya Imam As-Suyuthi
  • Sejarah Para Khalifah karya Hepi Andi Bastomi

Artikel sebelumnyaYazid bin Muawiyah: Bisikan di Sudut Kufah
Artikel berikutnyaAbdul Malik bin Marwan: Langkah Ganas Membangun Stabilitas