Beranda Profil Profil Umara Abdul Malik bin Marwan: Langkah Ganas Membangun Stabilitas

Abdul Malik bin Marwan: Langkah Ganas Membangun Stabilitas

0
abdul malik bin marwan
ilustrasi

Kisah hidup Abdul Malik bin Marwan merupakan salah satu potret paling dramatis tentang bagaimana kekuasaan mampu mengubah karakter seseorang. Memulai langkahnya sebagai pemuda shalih kesukaan warga Madinah, takdir menyeretnya ke pusaran politik Damaskus yang kejam dan penuh intrik. Transformasi dari ahli ibadah menjadi penguasa berdarah dingin mencerminkan betapa kerasnya tuntutan untuk mempertahankan sebuah imperium besar yang sedang koyak oleh perang saudara.

Di bawah kendalinya, Dinasti Umayyah berhasil melewati masa-masa paling kritis menuju era keemasan. Meski kepemimpinannya identik dengan kebijakan tangan besi dan kekejaman para panglimanya, Abdul Malik juga menorehkan tinta emas sebagai sang pembaru yang visioner, mulai dari melakukan arabisasi birokrasi hingga mencetak mata uang Islam pertama dalam sejarah. Ringkasan berikut akan membawa kita menyelami lembar demi lembar perjalanan hidup sang Khalifah, menyingkap kejayaan, kontroversi, hingga penyesalan yang menyergap di akhir hayatnya.

Pemuda Alim dari Kota Nabi

Lembayung senja baru saja menyentuh langit Madinah ketika seorang pemuda duduk bersila di sudut Masjid Nabawi. Di tangannya, selembar mushaf terbuka lebar. Ayat-ayat suci mengalir dari bibirnya dengan begitu indah, fasih, dan penuh penjiwaan. Siapa pun yang lewat akan menoleh, mengagumi kekhusyukan anak muda ini.

Dia adalah Abdul Malik, putra dari Marwan bin Al-Hakam bin Abi Al-‘Ash, yang silsilahnya tersambung gagah hingga Umayyah dan Abdi Manaf. Lahir pada tahun 26 Hijriah sebagai bayi prematur enam bulan, tak ada yang menyangka ia akan tumbuh menjadi penguasa.

Di masa mudanya, tak ada yang menangka bahwa Abdul Malik adalah calon khalifah bertangan besi. Ia adalah permata Madinah. Nafi’ pernah berbisik kepada sahabatnya, mengakui bahwa ia belum pernah melihat remaja yang lebih dermawan, lebih fakih, lebih tekun beribadah, dan lebih indah bacaan Al-Qur’annya daripada putra Marwan ini. Bahkan, para sesepuh kota menempatkan namanya sejajar dengan fukaha besar seperti Sa’id bin Al-Musayyib dan Urwah bin Zubair.

Suatu hari, ketika Abdul Malik masih belia, ia melangkah menemui Abu Hurairah. Sang sahabat Nabi yang agung itu menatap lekat-lekat wajah sang pemuda, lalu berkata dengan nada penuh nubuat:

“Dia akan merajai wilayah Arab.”

Ramalan itu bergaung pelan, menjadi rahasia alam yang perlahan mulai menenun takdirnya. Ummu Darda’ pun merasakan karisma yang sama. Ketika melihat cara Abdul Malik berbicara dan mendengarkan dengan penuh perhatian, ia berkata, “Aku sudah membayangkan khilafah ini akan jatuh ke tanganmu.” Abdul Malik hanya tersenyum tipis, tak tahu bahwa takdir itu akan menuntut harga yang sangat mahal.

Takhta yang Terkepung Badai

Waktu berputar, dan kesucian Madinah harus bertukar dengan kerasnya panggung politik Damaskus. Abdul Malik dilantik menjadi khalifah berdasarkan wasiat ayahnya. Namun, dunia Islam saat itu sedang terbelah. Di Makkah, Abdullah bin Zubair berdiri kokoh sebagai khalifah yang mayoritas umat mengakuinya. Di awal pemerintahannya, sebagian besar kalangan menganggap kekuasaan Abdul Malik tidak sah. Mereka menganggap Abdul Malik hanya sah menguasai Syam dan Mesir.

Namun, Abdul Malik bukanlah pria yang mudah menyerah. Dengan kecerdikan dan ketegasan, ia mulai merebut Irak dan wilayah sekitarnya. Puncaknya terjadi pada tahun 73 Hijriah, sebuah tahun yang bersimbah darah. Panglima kepercayaannya yang bertangan besi, Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Thaqafi, mengepung Makkah, membongkar Ka’bah, hingga akhirnya Abdullah bin Zubair gugur. Sejak detik kematian sang pesaing, barulah masyarakat secara mutlak mengakui takhta Abdul Malik.

Namun, kedamaian itu ia bayar dengan kekejaman yang mengiris hati. Al-Hajjaj, sang tangan kanan, melangkah terlalu jauh. Ia menikam sahabat senior, Ibnu Umar, dengan tombak beracun hingga wafat. Setahun kemudian, pada 74 Hijriah, Al-Hajjaj menginjakkan kakinya di Madinah. Kota suci itu menangis. Sang panglima melakukan penindasan, menghina para sahabat Nabi yang masih tersisa seperti Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah, dan Sahl bin Sa’ad As-Sa’di dengan memberi tanda besi panas di leher dan tangan mereka.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, sebuah harga mahal dari sebuah kekuasaan yang absolut. Abdul Malik yang dulu bersimpuh di masjid, kini menyaksikan dari singgasananya bagaimana darah dan kehormatan menjadi harga bagi tegaknya supremasi Daulah Bani Umayyah.

Pedang dan Dinar Emas Islam

Sebagai seorang penguasa sejati, Abdul Malik tidak hanya sibuk berperang. Ia adalah seorang visioner yang meletakkan dasar-dasar birokrasi Islam moderen. Di bawah pemerintahannya, ekspansi wilayah terus berjalan. Benteng Sinan ditaklukkan, Perang Armenia dan Shinhajah berkecamuk di Maghrib, hingga kota-kota baru seperti Wasith, Ardabil, dan Bardza’ah mulai dibangun dan menampakkan kemegahannya.

Namun, kontribusi terbesar Abdul Malik yang mengubah sejarah dunia adalah keputusannya pada tahun 75 Hijriah. Sebelum masa itu, umat Islam masih menggunakan mata uang dinar Romawi. Suatu hari, Raja Romawi mengirim surat ancaman yang meremehkan kaum muslimin karena mulai menuliskan nama Nabi Muhammad di dokumen-dokumen mereka. Romawi mengancam akan mencetak dinar dengan tulisan yang menghina Islam jika kebiasaan itu tidak dihentikan.

Abdul Malik meradang. Ia segera memanggil Khalid bin Yazid bin Mu’awiyah untuk meminta nasihat. Dengan tegas Khalid berkata:

“Larang uang mereka beredar di tengah-tengah kita! Buatlah mata uang sendiri yang di dalamnya disebut nama Allah dan Nabi-Nya.”

Maka, lahirlah dinar Islam pertama dalam sejarah. Di satu sisinya tertulis dengan gagah kalimat “Qul Huwallahu Ahad”, dan di sisi lain “La ilaha illallah”. Di lingkaran luarnya, terukir indah kalimat: Muhammadur Rasulullah arsalahu bil huda wa dinil haqq. Sejak saat itu, kedaulatan ekonomi Islam berdiri tegak, lepas dari bayang-bayang imperium Barat.

Sisi Gelap Sang Penguasa

Sejarah selalu memiliki dua sisi mata uang. Di balik kegemilangan reformasi dan penaklukan, Abdul Malik mulai berubah menjadi sosok yang menakutkan. Kekuasaan telah mengubah sang ahli ibadah menjadi sosok yang bengis. Di kalangan rakyat, ia mulai dijuluki Rasyhu Al-Hijarah (tetesan batu) karena sifat kikirnya, dan Abu Dzibban (si bapak lalat) karena bau mulutnya yang menyengat akibat lahir prematur.

Pengkhianatan politik terbesar yang mencoreng namanya adalah pembunuhan terhadap ‘Amr bin Sa’id bin Al-‘Ash. Padahal, Marwan (ayah Abdul Malik) telah menjanjikan takhta setelah Abdul Malik kepada ‘Amr. Demi mengamankan takhta untuk anak-anaknya sendiri, Abdul Malik melanggar janji tersebut dan menghabisi ‘Amr. Ini dicatat sebagai pengkhianatan pertama yang dilakukan oleh seorang khalifah dalam Islam. para penyair pun meratap:

Mereka bunuh ‘Amr dan mereka tidak lurus langkah-langkahnya…

Mereka anggap pengkhianatan sebagai kecerdikan pikiran…

Setelah kematian Ibnu Zubair, Abdul Malik berdiri di mimbar Madinah. Kali ini, tidak ada lagi kelembutan pemuda penghafal Al-Qur’an. Dengan tangan terangkat—menjadi khalifah pertama yang berpidato dengan gestur tersebut—ia berkhotbah dengan nada mengancam:

“Aku bukanlah khalifah yang lemah seperti Utsman, bukan pula tukang tipu seperti Mu’awiyah, atau yang lemah akal seperti Yazid. Aku tidak akan mengobati penyakit umat ini kecuali dengan pedang, hingga perilaku kalian menjadi lurus! Demi Allah, jangan ada lagi yang menyuruhku bertakwa kepada Allah setelah aku turun dari mimbar ini, atau akan kupenggal kepalanya!”

Untaian Puisi dan Teka-Teki Warisan

Meskipun kejam dalam urusan takhta, kecerdasan intelektual Abdul Malik tetap tidak tertandingi. Asy-Sya’bi, seorang ulama besar, pernah mengaku kalah wawasan jika duduk bersama sang Khalifah. “Jika aku menyebutkan satu hadis, ia akan menambahkan hadis lain. Jika aku membacakan satu bait syair, ia pasti tahu lanjutannya,” kenang Asy-Sya’bi.

Abdul Malik juga dikenal sebagai sosok yang sangat menyukai sastra, bahkan menjadi orang pertama yang menerjemahkan syair-syair Persia ke dalam bahasa Arab. Penyair Kristen istana, Al-Akhthal, begitu disayanginya hingga dinobatkan sebagai penyair resmi Bani Umayyah.

Di sisi lain, ia juga memiliki pandangan unik tentang wanita. Ia pernah berpesan, “Jika ingin mencari wanita untuk kesenangan, carilah dari kaum Barbar. Jika ingin menjadikannya ibu dari anak-anakmu, carilah wanita Persia. Dan jika untuk pelayanan, carilah wanita Romawi.”

Penyesalan Abdul Malik bin Marwan

Tahun 86 Hijriah tiba membawa hawa dingin kematian. Sebuah wabah penyakit mengerikan, yang dikenal sebagai Tha’un Wanita karena menyerang kaum perempuan terlebih dahulu, melanda negeri. Di dalam istananya, Abdul Malik terbaring lemah. Rambutnya telah memutih dengan cepat. Ketika seseorang bertanya mengapa ubannya tumbuh begitu cepat, ia menjawab lirih, “Bagaimana tidak, aku harus memeras seluruh isi otakku demi mengurus manusia setiap hari Jumat.”

Di ambang sakaratul maut, tirai ambisi duniawi runtuh. Sang Khalifah menatap keluar jendela, melihat seorang tukang panggul barang di jalanan. Air matanya menetes.

“Demi Allah, aku berharap sejak dilahirkan aku hanyalah seorang tukang panggul barang yang hidup sederhana,” bisiknya penuh penyesalan.

Ia mengumpulkan anak-anaknya, meninggalkan tujuh belas keturunan. Kepada Al-Walid, putra mahkotanya, ia memberikan wejangan terakhir. Ia meminta Al-Walid untuk tetap menjaga Al-Hajjaj sebagai pedang yang tajam. “Jika aku mati, segeralah bangkit, pakailah kulit harimau, dan sandangkan pedangmu. Siapa pun yang menentangmu, penggal kepalanya!” ucapnya, kembali memunculkan sisi kerasnya di detik-detik terakhir.

Sebenarnya, Abdul Malik selalu dilingkupi takdir bulan Ramadhan. Ia lahir, disapih, khatam Al-Qur’an, dan naik takhta di bulan suci itu. Ia selalu takut akan mati di bulan Ramadhan pula. Namun, takdir menjemputnya di bulan Syakban atau Syawal tahun 86 H, tepat setelah bulan ketakutannya berlalu.

Ia pergi meninggalkan warisan imperium yang megah, dinar emas yang berkilau, namun juga catatan sejarah yang basah oleh air mata para sahabat Nabi. Sebuah akhir dari kisah seorang pemuda masjid yang terjebak dalam lingkaran magis kekuasaan dunia.[]

Artikel sebelumnyaMuawiyah bin Yazid, Melepas Tahta Demi Surga