Beranda Profil Profil Umara Yazid bin Muawiyah: Bisikan di Sudut Kufah

Yazid bin Muawiyah: Bisikan di Sudut Kufah

0
yazid bin muawiyah
ilustrasi

Lelaki bertubuh tambun dan berbulu lebat itu bernama Yazid. Lahir di sekitar tahun 25 Hijriah dari rahim Maysun binti Bahdal, ia adalah putra Mu’awiyah bin Abi Sufyan, sang penguasa Syam. Yazid tumbuh dalam gelimang kekuasaan Abu Khalid Al-Umawi. Meski ia sempat meriwayatkan beberapa hadis dari ayahnya, sejarah tidak akan pernah mengingatnya sebagai seorang perawi, melainkan sebagai poros dari sebuah perubahan besar yang mengubah wajah kekhalifahan Islam untuk selamanya.

Semua bermula dari sebuah siasat di sudut kota Kufah. Al-Mughirah bin Syu’bah, yang saat itu menjabat sebagai gubernur, mencium aroma pemecatan dirinya oleh Mu’awiyah. Dengan kecerdikan yang licik, Al-Mughirah sengaja mengulur waktu untuk menghadap sang khalifah. Ketika akhirnya mereka bertemu, Mu’awiyah bertanya dengan nada menyelidik tentang keterlambatannya.

“Saya sedang membereskan satu perkara besar yang telah lama saya persiapkan,” jawab Al-Mughirah dengan tenang.

“Perkara apa?” tanya Mu’awiyah penasaran.

“Saya telah mengikat baiat orang-orang Kufah untuk putra Anda, Yazid.”

Mendengar hal itu, binar kepuasan memancar dari mata Mu’awiyah. Siasat Al-Mughirah berhasil; ia tidak jadi dipecat dan justru dikembalikan ke kursinya. Namun, di luar ruangan, Al-Mughirah berbisik jemawa kepada para sahabatnya bahwa ia baru saja mengikat kaki Mu’awiyah pada sebuah keputusan yang tak akan bisa lepas hingga Hari Kiamat.

Hasan Al-Bashri di kemudian hari meratapi momen ini. Baginya, andai saja Al-Mughirah tidak membisikkan ambisi itu, urusan suksesi kepemimpinan umat Islam mungkin akan tetap tegak di atas musyawarah, bukan berubah menjadi kerajaan turun-temurun.

Sumpah Ayah dan Penolakan Dua Singa

Gelombang penolakan langsung berembus begitu rencana itu tercium. ‘Amr bin Hazm dengan berani mendatangi Mu’awiyah, mengingatkannya akan tanggung jawab atas umat Muhammad. Namun, Mu’awiyah bergeming, meyakini bahwa putranyalah yang paling berhak. Di atas mimbar, Mu’awiyah sempat melangitkan doa yang bergetar:

“Ya Allah, jika aku memilih Yazid karena keutamaannya, maka sampaikanlah ia pada khilafah. Namun jika ini hanya karena cinta seorang ayah, maka cabutlah nyawanya sebelum ia menduduki kursi itu.”

Takdir ternyata berjalan ke arah lain. Saat Mu’awiyah mengembuskan napas terakhir, penduduk Syam segera membaiat Yazid. Namun, ketika utusan dikirim ke Madinah untuk menuntut kesetiaan yang sama, mereka membentur dinding batu. Dua singa Hijaz—Al-Husein cucu Rasulullah dan Abdullah bin Zubair—secara tegas menolak. Keduanya memilih angkat kaki dan berlindung di bawah naungan kota suci Makkah.

Di Makkah, lembaran surat mulai berdatangan dari Irak. Penduduk Kufah memohon-mohon agar Al-Husein sudi datang memimpin mereka. Hati sang cucu Nabi pun tergerak. Melihat gelagat itu, para sahabat senior panik. Abdullah bin Umar merangkul Husein sambil menangis tersedu-sedu, mengingatkannya bahwa dunia bukanlah tempat bagi keluarganya dan memohon agar ia belajar dari nasib tragis ayah dan saudaranya terdahulu.

Abdullah bin Abbas bahkan memperingatkan dengan ngeri, “Aku melihatmu akan dibunuh di tengah-tengah istri dan anak perempuanmu seperti Utsman.” Namun, tekad Husein sudah bulat bagai baja. Pada tanggal 10 Dzulhijjah, rombongan kecil itu bergerak membelah gurun menuju Irak, membawa serta perempuan dan anak-anak, tanpa menyadari maut sedang mengasah pedangnya di ujung jalan.

Tragedi Berdarah di Karbala

Kabar keberangkatan Husein membakar amarah Yazid di istananya. Ia segera memerintahkan Ubaidillah bin Ziyad untuk mencegat dan menghabisi sang cucu Nabi. Pasukan raksasa berkekuatan empat ribu prajurit di bawah komando Umar bin Sa’ad dikerahkan. Di padang gersang bernama Karbala, rombongan Husein dikepung rapat.

Menyadari situasi yang tidak seimbang, Husein mencoba menawarkan jalan damai: biarkan mereka pulang ke Makkah atau biarkan ia menemui Yazid secara langsung. Namun, hati para pengepungnya telah membatu oleh janji duniawi. Mereka menolak opsi apa pun selain darah.

Pada tanggal 10 Muharram, Hari Asyura, tragedi kemanusiaan paling kelam dalam sejarah Islam meletus. Husein bersama dua puluh enam keluarganya dibantai tanpa belas kasihan. Kepala sang cucu Rasulullah dipenggal dan diletakkan di dalam sebuah baskom, lalu diarak ke hadapan Ziyad.

Alam semesta seolah ikut menjerit menyaksikan kekejian itu. Konon, dunia seperti terhenti selama tujuh hari, matahari merapat ke dinding dengan warna menguning laksana kain yang pudar, dan bintang-bintang seakan saling berbenturan. Langit memerah pekat selama enam bulan, dan setiap batu yang diangkat di Baitul Maqdis memuntahkan darah kental.

Di Madinah, Ummu Salamah terbangun dari tidurnya dengan air mata berlinang; ia baru saja bermimpi melihat Rasulullah dengan rambut dan jenggot berdebu, meratapi kematian cucu tercintanya. Bahkan, para perawi mengisahkan bahwa jin-jin di padang sunyi terdengar menangis, mendendangkan bait-bait duka atas gugurnya pemuda suci keturunan Quraisy yang paling mulia itu.

Angkara Murka di Kota Nabi

Ketika kepala Husein tiba di hadapan Yazid, sang khalifah awalnya bersorak gembira. Namun, sorak itu segera berubah menjadi kecemasan saat ia menyadari gelombang kebencian kaum muslimin mulai menggulung takhtanya. Kutukan mengalir, dan legitimasi kekuasaannya runtuh di mata publik. Kebencian itu mencapai puncaknya pada tahun 63 Hijriah, ketika penduduk Madinah secara terbuka menolak mengakui Yazid sebagai pemimpin mereka karena perilakunya yang dinilai kerap melanggar syariat dan meminum khamar.

Murka karena pembangkangan ini, Yazid mengirimkan pasukan besar ke Madinah. Apa yang terjadi selanjutnya adalah noktah hitam yang dikenal sebagai Peristiwa Harrah. Pasukan Yazid menghancurkan kota tempat peristirahatan Rasulullah, membantai ratusan sahabat dari kalangan Quraisy dan Anshar, serta merusak kesucian seribu gadis perawan.

Kota suci itu berdarah, mengabaikan peringatan keras Rasulullah bahwa siapa pun yang menakut-nakuti penduduk Madinah akan mendapat laknat dari Allah, malaikat, dan seluruh manusia. Seusai meluluhlantakkan Madinah, pasukan kejam itu melanjutkan barisannya menuju Makkah untuk memburu Abdullah bin Zubair.

Di bawah komando Al-Husein bin Numayr, pasukan Syam mengepung Makkah dan menghujani kota suci itu dengan ketapel raksasa (manjaniq). Bola-bola api melesat membelah langit malam Shafar tahun 64 Hijriah, membakar sebagian penutup Ka’bah, menghanguskan atapnya, dan melalap dua tanduk domba peninggalan kurban Nabi Ibrahim yang disimpan di sana. Namun, sebelum Makkah benar-benar takluk, takdir kematian terlebih dahulu menjemput Yazid di bulan Rabiul Awwal. Mendengar kabar sang tiran telah mati, pasukan Syam mundur dengan kepala tertunduk membawa kehinaan, meninggalkan kekhalifahan Yazid yang singkat, kelam, dan penuh dengan genangan darah. []

*Disarikan dari Tarikh Khulafa’ karya Imam As-Suyuthi

Artikel sebelumnyaIbnu Qasim Al-Ghazi, Penulis Kitab Fathul Qarib