“Ya Allah, Sembuhkanlah Ibuku. Atau, Mudahkanlah Ajalnya,”

Ilustras @facebook
Ilustras @facebook

- Advertisement -

Kasih ibu sepanjang masa, kasih anak sepanjang galah. Kasih ibu tak berbatas, kasih anak amatlah terbatas. Jika orangtua mampu menempuh jalan panjang, terjal, penuh onak dan duri demi memberikan yang terbaik untuk anaknya, maka tidak serta merta dengan sang anak. Bahkan, dalam tahap-tahap tertentu, meski mengetahui bahwa ia hidup dan dibesarkan atas jasa orangtua, tak sedikit dari mereka yang mendoakan kematian bagi ibu atau orangtuanya. Durhakanya! Tapi, begitulah…

Kabar duka menyelimuti keluarga itu. Sang anak yang menginjak remaja mengalami kecelakaan. Bukan main, kepalanya terbentur aspal, tangan dan kakinya patah, bahkan bagian perut yang terlindas ban truk penabraknya sedikit terburai.

Sesampainya di rumah sakit, pihak dokter dan rumah sakit tak kuasa memberikan banyak harapan. Sebab, lukanya teramat parah. Kepada sang ibu, dokter hanya berujar, “Doakan saja, Bu. Moga mendapat yang terbaik.”

Meski sebagian besar anggota keluarga itu sama pesimisnya dengan dokter dan pihak rumah sakit, namun tak demikian dengan sang ibu. Harapannya bahwa sang anak bisa pulih seperti sedia kala amatlah besar, melebihi kadar pesimis yang tentu saja ada pada setiap manusia. Apalagi jika melihat fakta kecelakaan dan cidera yang menimpa anaknya itu.

Itulah ibu. Ibu adalah perlambang ketulusan yang penuh, kelembutan tanpa batas, kasih yang tak pilih kasih dan sayang sepanjang zaman. Bahkan, ibu pasti lebih dari itu. Kebaikan ibu melebihi sangkaan atau harapan kita selaku anak-anaknya.

Maka hari-hari selanjutnya adalah hari ibadah dan munajat dari sang ibu kepada Allah Swt. Tiap malam, Tahajjud tak pernah libur. Ibu nan baik hati ini selalu panjatkan pinta kepada penciptanya, “Ya Allah, sembuhkan anakku. Berikan ia kesehatan sehingga mampu beraktivitas seperti sedia kala. Ya Allah, hanya Engkau Yag Maha Menyembuhkan,” demikian pintanya, saban hari: mengalun syahdu nan tulus, tiada henti.

- Advertisement -

Begitulah seterusnya. Munajat panjang tiada henti. Berharap ada keajaiban yang layak diterima anaknya melalui pinta-pinta yang ia panjatkan. Puncaknya, saat sang anak mengalami kritis, dengan amat sadar, dari lisan sang ibu terucap lirih, berulang kali, “Ya Allah, sembuhkan anakku. Jika harus kuganti, maka aku siap dan rela untuk menggantikan nyawanya.”

Qadarullah, anaknya sembuh setelah menjalani perawatan selama kurang lebih lima bulan. Ia diizinkan pulang dari rumah sakit. Kemudian berangsur sembuh total hingga mampu beraktivitas seperti sedia kala. Alhamdulillah.

Yang paling bahagia kala itu, tentu saja sang ibu. Meski, dirinya sama sekali tak mengerti apa yang akan terjadi esok hari: ketika usianya sudah senja.

Benarlah. Kasih anak memang ada batasnya. Waktu berjalan, bulan berganti menjadi tahun dan puluhan tahun. Sang ibu sakit. Lantaran usia dan ada sedikit penyakit di dalam dirinya. Agak lama sang ibu sakit. Seluruh keluarga saling berdatangan. Berbagi doa, motivasi dan saling megingatkan untuk bersabar.

Entah, sadar atau tidak, sang anak yang dulunya hampir mati kemudian didoakan agar hidup oleh ibunya, kala itu bermunajat agak sumbang. Namun, ia memanjatkannya dengan mantap, “Ya Allah, sembuhkanlah ibuku. Tapi,” lanjutnya, “jika memang suda tak bisa sembuh, mudahkalah ajalnya.”

- Advertisement -

Innalillahi wa inna ilahi roji’un. Mungkin, saat sang ibu mendengar doa ini, ia akan sedikit terluka dan bisa jadi mati mendadak karenanya. Tapi, sayang sang ibu yang dilantunkan dalam bentuk doa dan perhatian sepenuh hati beberapa puluh tahun lalu, sama sekali tak disesalinya. Bahkan, ia amat bangga dengan apa yang dilakukannya.

Duhai, apakah diri ini berperilaku seperti sang anak dalam kisah nyata ini? Semoga tidak. Dan, jika boleh berharap, moga kita dikaruniai ketulusan seperti sang ibu, namun mendapatkan takdir yang lebih baik darinya di akhir hayat kita. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -