Rahasia Agar Amal Diterima

Allah Ta’ala mengisahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan umatnya tentang kejadian yang menimpa dua anak Nabi Adam ‘Alaihis salam, Habil dan Qabil. Sebelum Qabil membunuh Habil, dan peristiwa tersebut menjadi pembunuhan yang pertama dilakukan oleh umat manusia, ada espisode menarik tentang rahasia mengapa satu di antara mereka diterima amalnya, dan yang lainnya ditolak. Padahal, keduanya sama-sama beramal.

- Advertisement -

Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an dan beberapa riwayat dari Rasulullah, kedua anak Nabi Adam ‘Alaihis salam ini melakukan suatu amalan. Ada yang menyebutkan bahwa amalan tersebut berupa sedekah. Intinya, keduanya memberikan persembahan kepada Allah Ta’ala.

Keduanya pun menyerahkan yang dimiliki. Habil memberikan yang terbaik untuk Allah Ta’ala, sedangkan Qabil bersikap sebaliknya. Allah Ta’ala pun menerima persembahan Habil dan menolak pemberian Qabil.

Akan tetapi, selain materi yang diberikan, ada lagi satu rahasia penting yang menjadi sebab diterimanya amalan Habil dan ditolaknya amalan Qabil.

Ialah taqwa yang termanifestasi dengan sangat baik di dalam hati dan termanifestasi dalam perbuatan. Habil memberikan yang terbaik karena taqwanya kepada Allah Ta’ala. Sebab Allah Ta’ala telah memberikan banyak kebaikan kepadanya, ia pun merasa harus memberikan yang terbaik kepada Allah Ta’ala.

Ketika materi amal (harta, benda, atau perbuatan) baik diikuti dengan niat yang baik dan cara yang benar, maka penjamin diterimanya amal semakin lengkap. Hampir saja, tiada satu pun alasan yang patut dijadikan alasan ditolaknya amal tersebut.

Sebaliknya, amalan Qabil yang tidak dilandasi taqwa, ianya tertolak karena dua sisi; materi amal yang ala kadarnya bahkan mendekati materi yang buruk, dan niat yang tiada sedikit pun terdapat keikhlasan di dalamnya.

- Advertisement -

Sebagai penutupnya, setelah niatnya salah dan materi amalnya buruk, Qabil pun melakukan kesalahan ketiga dengan membunuh saudaranya. Ialah iri dengki yang membakar iman layaknya api yang melahap habis kayu bakar.

Maka perhatikanlah urusan ini. Ialah soalan hati yang berhubungan dengan keikhlasan seorang hamba dalam beramal. Ikhlas yang paripurna. Bukan ikhlas imitasi. Ikhlas inilah yang mendorong seorang hamba untuk-tidak hanya-memperbaiki niat, tapi diiringi pula dengan memberikan yang terbaik berupa harta, benda, atau amal.

Semoga Allah Ta’ala menerima semua amal kebaikan yang kita lakukan. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -