Kiat dari Imam Syafi’i Agar Istiqamah

Muhammad bin Idris yang lebih dikenal dengan nama asy-Syafi’i adalah satu di antara empat imam yang madzhabnya banyak dianut oleh kaum Muslimin di berbagai belahan dunia. Sosok kelahiran Gaza Palestina ini merupakan ulama langka di bidang hadits, fikih, tafsir, dan lainnya. Salah satu kitabnya yang monumental adalah al-Umm yang dipersembahkan untuk ibunya.

- Advertisement -

Dari banyak taujih Rabbaninya, Imam asy-Syafi’i yang digelari sebagai Nashirus Sunnah (Penolong Sunnah) ini membeberkan kepada kiat agar istiqamah.

“Siapa yang mampu melihat kekurangan di dalam dirinya,” demikian beliau sampaikan sebagaimana dikutip oleh Salim A. Fillah dalam Lapis-Lapis Keberkahan, “maka dia akan mencapai istiqamah.”

Yang dimaksud dengan melihat kelemahan diri adalah melakukan muhasabah. Melihat ke dalam diri, meneliti kondisi hati, mengingat-ingat dosa yang dikerjakan untuk ditaubati, dan menghitung amal untuk ditingkatkan kualitasnya.

“Teruslah bermuhasabah,” lanjut sosok yang juga menulis kitab Fikih Manhaji ini, “untuk melihat betapa lemah dan fakirnya dirimu.”

Lemah. Itulah di antara hakikat manusia. Lemah di hadapan Allah Ta’ala. Tiada secuil pun daya dan kekuatan, kecuali dari Allah Ta’ala Yang Mahakuat. Lemah juga dinisbatkan kepada fisik yang amat kecil jika di banding umat zaman dahulu atau keseluruhan semesta raya. Bahkan, manusia diibaratkan sebagai pasir yang menempel di bola. Amat kecil. Dan dia harus bertahan agar tidak terlempar ketika bola ditendang-tendang, dipukul-pukul, atau dilempar dalam permainan.

Selain lemah, manusia juga fakir. Miskin. Tidak punya apa-apa. Bukankah ketika dilahirkan ke dunia, manusia tidak membawa sehelai kain pun? Tak bisa bergerak. Tidak kuasa menjaga diri. Bahkan hanya menunggu asupan yang dibawakan oleh makhluk lain sebagai rezeki dari Allah Ta’ala.

- Advertisement -

Ketika kecil itu pula, manusia berada dalam kondisi lemah dan teramat miskin. Jika bukan karena Pengasih dan Penyayang-Nya Allah Ta’ala, manusia bukanlah apa-apa.

“Dengan begitu,” pungkas Imam asy-Syafi’i dalam nasihatnya ini, “kalian akan senantiasa berada dalam keistiqamahan.”

Rajin-rajinlah melihat ke dalam diri. Miliki waktu untuk menyendiri. Agendakan. Mereka yang berhasil menyejarah dalam kehidupan dan berbahagia di surga-Nya kelak adalah orang-orang yang sadari kekurangan diri, lalu bergegas memperbaikinya. Mereka melihat diri secara jujur dan melakukan perbaikan kebaikan di sepanjang usianya. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...