Orang yang Dicela Allah

Menjadi manusia itu gampang-gampang susah. Gampang jika mengetahui kemestian, tugas sebagai hamba, dan bersungguh-sungguh untuk senantiasa berada di jalan-Nya. Akan tetapi, semua amalan ini tidaklah mudah. Susah. Banyak ujian di sepanjang jalannya. Bahkan, jika tergelincir, ada ancaman celaan dari Allah Ta’ala sebagaimana termaktub di dalam al-Qur’an al-Karim.

- Advertisement -

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri terhadap (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (Qs. al-Baqarah [2]: 44)

Secara khusus, ayat ini ditujukan kepada kaum Yahudi yang memerintahkan orang lain untuk taat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, tapi mereka menjadi pengingkar yang nyata. Mereka menyuruh orang lain berbuat baik, tapi dirinya sendiri sibuk dengan keburukan dan seluruh amalan mempromosikannya.

Ancamaan lebih keras ditujukan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (Qs. ash-Shaff [61]: 3)

Bukan hanya dicela, tapi Allah Ta’ala murka kepada siapa yang melakukan perbuatan ini. Adakah yang lebih buruk dari Celaan-Nya? Padahal Dia adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Ancaman celaan ini juga ditujukan kepada siapa pun dari umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam. Baik dari kalangan biasa-biasa saja, atau mereka yang telah mewakafkan diri dan berikrar sebagai dai di jalan Allah Ta’ala.

- Advertisement -

Berdakwah, sebagaimana disebutkan dalam ayat-Nya di dalam al-Qur’an, merupakan amalan yang terbaik dan tidak ada yang mengunggulinya. Akan tetapi, jika kaidah ini dilanggar, maka seorang dai justru menjadi orang yang diancam oleh Allah Ta’ala dengan Murka-Nya.

“Kejujuran,” tulis Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah saat menjelaskan Risalah al-Mustarsyidin Imam al-Harits al-Muhassibi, “adalah jika Anda menyeru kepada kebaikan, maka Anda harus terlebih dulu melakukan apa yang Anda serukan itu. Dan jika Anda melarang kemaksiatan, maka Anda juga harus menjadi yang pertama meninggalkan perbuatan dosa tersebut.”

“Sebab,” pungkas beliau menjelaskan, “jika tidak berlaku demikian, Anda akan termasuk kelompok orang-orang yang dicela oleh Allah Ta’ala.”

Mari merenung. Sejenak saja. Sudahkah kita melakukan semua kebaikan yang kita serukan? Sudahkah diri ini meninggalkan larangan-larangan Allah Ta’ala yang kita dakwahkan? Semoga Allah Ta’ala Menolong kita. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Inilah Ayat yang Membuat Umar Masuk Islam

Kemarahan Umar bin Khattab memuncak. Ia merasa agama baru telah membuat ajaran nenek moyangnya terinjak-injak. Maka ia ambil pedang, lalu pergi untuk mengakhiri apa...

Jenazah Utuh Thalhah bin Ubaidillah Saat Makamnya Dipindah

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu gugur sebagai syahid pada Perang Jamal. 30 tahun kemudian, saat kaum muslimin memindahkan makamnya, mereka menyaksikan sebuah keajaiban. Jenazah...

Kisah Umar Marah kepada Abu Bakar Melebihi Marahnya kepada Utsman

Umar bin Khattab pernah marah kepada beberapa sahabat, terutama Abu Bakar Ash Shiddiq. Saat itu Umar sedang berduka karena menantunya meninggal dunia sehingga putrinya...

Penasaran Hadits Ini, Istri-Istri Nabi Mengukur Panjang Tangannya

Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai beliau. Tak hanya ingin menemani beliau di dunia, para ummul mukminin juga ingin segera menyusul Rasulullah...