Bukti Ketajaman Mata Hati Imam al-Bukhari

0
gambar ilustrasi @www.lensaindonesia.com

Dalam diri orang shalih kita temukan bukti pesona akhlak. Ialah mata air yang akan senantiasa menyejukkan hingga akhir zaman. Ialah oase yang menyebabkan kenikmatan, bagi yang menyaksikannya secara langsung hingga generasi akhir zaman, meski hanya membacanya dari kitab-kitab tulisan mereka.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani meriwayatkan sebuah kisah ketajaman mata hati Imam al-Bukhari yang mengumpulkan hadits-hadits shahih dalam sebuah kitab monumental. Dalam kisah yang terkesan remah dan amat sederhana ini terdapat hikmah yang amat banyak, bagi siapa pun yang bersih hati dan berniat sungguh-sungguh untuk memperbaiki diri dengan meneladani orang-orang shalih.

Imam al-Bukhari tengah mengisi kajian rutin di majlisnya. Jamaah yang hadir tidak terhitung. Melimpah ruah. Dari sekian banyaknya jamaah, Imam yang senantiasa mendirikan shalat dua rakaat saat ingin memasukkan hadits ke dalam kitabnya ini melihat salah satu jamaahnya.

Tangannya menemukan rempah-rempah bekas makanan di jenggotnya, diambil, lalu dibuang begitu saja ke lantai masjid, tanpa merasa bersalah.

Setelah usai kajian, sang Imam mendekat ke lantai tempat laki-laki tersebut membuang sampah sembari memperhatikan jamaah lain yang berada di majlisnya itu. Agak lama, hingga tiada satu orang pun yang terlihat memperhatikan gerak-geriknya.

Saat tidak ada yang memperhatikan itu, beliau mengambil rempah-rempah yang dibuang di lantai masjid, lalu memasukkannya secara perlahan dan tersembunyi di lipatan lengan bajunya. Rupanya, teladan terkait ketajaman hati ini ditangkap oleh penglihatan Imam Muhammad bin Manshur sampai Imam al-Bukhari keluar masjid, lalu membuang sisa makanan tersebut di tanah.

Di akhir zaman ini, kita mendapati kebiasaan yang jauh berbeda. Di mana pun ada pengajian, taklim, atau pertemuan kaum Muslimin lainnya dalam sebuah ritual ibadah, seperti shalat Idul ‘Adha dan Idul Fitri, di sana kita temukan sampah yang tertnggal.

Sebab lokasi penampungan jamaah tidak cukup, maka sebagian besar jamaah laki-laki dan perempuan membawa koran atau alas shalat lainnya. Mirisnya, setelah shalat selesai, mereka meninggalkan alas tersebut begitu saja, tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Pun dalam aktivitas-aktivitas lain yang melibatkan pesarta dalam jumlah yang banyak. Hampir tiada bekas yang ditinggal, kecuali sampah yang bertebaran dimana-mana. Miris.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaOrang yang Dicela Allah
Berita berikutnyaWasiat Amat Penting yang Seharusnya Disampaikan Para Ayah