Nasihat Langka dari Sufi Wanita Rabi’ah al-Adawiyah

Muslimah ini sangat masyhur di kalangan kaum Muslimin. Nama aslinya Ummul Khair Rabi’ah binti Isma’il al-‘Adwaiyah al-Bashriyah. Terkenal dengan sebutan Rabi’ah al-‘Adwaiyah, wanita sufi ini wafat pada tahun 135 Hijriyah dengan catatan spiritual dan syair-syair yang mengagumkan.

- Advertisement -

“Hai orang yang mendengarku,” tutur Rabi’ah al-‘Adawiyah sebagaimana dikutip oleh Imam Ibnul Jauzi dalam Shaidul Khatir, “jika kedamaian hatimu bergantung pada kue puding, maka makanlah (kue puding itu)!”

Jika dengan memakan kue puding bisa membuat seseorang fokus dalam beribadah, memakan puding sangat dianjurkan. Apalagi ketika timbul rasa khawatir dan tidak khusyuk saat beribadah dalam keadaan meninggalkan kue, sebelum memakannya.

“Jangan sekali-kali kamu terkecoh oleh penampilan luar kezuhudan. Karena terkadang, orang yang mewah tidak berniat untuk bermewah-mewahan, namun hanya ingin mendapatkan kebaikan.” lanjut Rabi’ah.

Zuhud itu bukan miskin. Zuhud adalah mengosongkan hati dari hajat dunia. Orang yang zuhud bisa jadi kaya raya, tapi kekayaannya dimanfaatkan untuk ibadah, tidak pernah sekali pun atau sedikit pun yang disimpan di dalam hatinya.

Jika seseorang berpenampilan mewah dalam urusan bisnis demi maslahat kaum Muslimin yang lebih besar, insya Allah ada kebaikan yang banyak di dalamnya.

“Dan tidak semua tubuh memiliki kemampuan hidup memprihatinkan, terlebih lagi tubuh yang telah merasakan keletihan badan, kepayahan pikiran, dan lilitan kemiskinan. Jika tubuh yang seperti ini tidak dimanjakan, tentu ia akan meninggalkan kewajiban yang menjadi tanggungannya.” pungkas sang sufi menyampaikan nasihatnya.

- Advertisement -

Masing-masing tubuh diciptakan dengan kecenderungan dan kebutuhannya masing-masing. Tidak boleh menganggapnya serupa. Tidak dianjurkan melakukan generalisasi. Masing-masing punya keunikan.

Tubuh butuh makan. Tubuh menghajatkan nutrisi. Tubuh suka jika dimanjakan dan dipenuhi kebutuhannya. Jangan berlagak sok sufi dengan memiskinkan diri, lalu meninggalkan makanan dalam jangka waktu yang lama hingga ibadah dan amal shalih lain yang lebih wajib menjadi terbengkalai.

Tidaklah seorang menjalani kehidupan sufi, lalu ia tidak khusyuk dalam shalat dan ibadah lain karena lapar, kecuali di dalam dirinya terdapat kesalahan pemahaman yang akut.

Apalagi pura-pura zuhud dengan sibuk ibadah mahdhah, sedangkan anak, istri, orang tua, dan keluarga membutuhkan nafkah dalam kehidupan sehari-hari.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...