Kisah untuk Pemfitnah Parade Tauhid Indonesia

Sungguh, ramalan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terkait perpecahan di tubuh umat benar adanya. Banyak sekali hal-hal yang menjadi pemicu perbedaan yang berujung pada saling menyalahkan, menganggap diri paling benar, hingga konflik fisik, baik ringan maupun berat. Pun, di tubuh kaum Muslimin; antara individu dengan individu, hingga ormas dengan pergerakan Islam, dan lain sebagainya.

- Advertisement -

Pada suatu malam, pemuda berperawakan agak tinggi ini beranjak menuju sebuah masjid. Niatnya mendatangi kajian kitab Riyadhush Shalihin di masjid tersebut atas informasi dari teman-temannya. Sebelum berangkat, lelaki dua puluhan tahun ini memang sedikit bertanya kepada ayah dan ibunya tentang kitab anggitan Imam an-Nawawi ini, lalu bersegera berangkat sebab waktu kajian akan lekas dimulai.

“Entah bagaimana ceritanya,” akunya sepulang mengikuti pengajian, “ustadznya memfitnah acara Parade Tauhid Indonesia.”

Tanya si ayah, “Emang mereka bilang apa tentang Parade Tauhid Indonesia?”

Pemuda yang sudah memasuki semester tua di sebuah kampus kawasan Serpong ini pun bertutur; pertama, si ustadz mengatakan bahwa para panitia Parade Tauhid tidak menghiraukan waktu shalat Zhuhur. Kedua, dia mengatakan bahwa di acara yang dihadiri ratusan ribu kaum Muslimin itu, ada banci-banci dengan pakaian serbaminim yang ikut melakukan parade.

Mulanya, pemuda ini hendak diam. Apalagi, baru pertama kali dirinya ikut di kajian itu. Pun, dengan teman-temannya yang mengajak seraya menyebarkan informasi kajian tersebut. Namun, melihat fitnah kedua yang disampaikan oleh pemateri kajian, batinnya bergejolak.

“Bang,” tanya si pemuda kepada peserta kajian di sampingnya, “apa yang disampaikan oleh ustadz itu gak sesuai dengan fakta.” Tanyanya untuk meyakinkan diri, “Apakah saya boleh menyampaikan fakta untuk meluruskan?”

- Advertisement -

Sosok yang terindikasi dari kelompok kajian itu, jika dilihat dari pakaiannya, berkata, “Terserah.”

Sang pemuda pun mengangkat tangan. “Agak lama, dan awalnya tidak dihiraukan.” Akunya, “Tapi cuek saja, terus angkat tangan.” Saat dirinya mendapat kesempatan bicara itu, seluruh mata peserta kajian menuju padanya. “Tapi,” ujarnya, “saya (menyebut namanya) sih cuek saja.”

“Maaf, ustadz,” katanya memulai, “apa yang ustadz sampaikan itu tidak benar.” Bebernya sampaikan alasan, “Sebab, saya mengikuti acara itu sampai kelar.”

“Yang pertama, panitia langsung mengumandangkan adzan saat waktu Zhuhur tiba. Kemudian, seluruh peserta yang masih ada di lokasi mengambil air wudhu dengan air mineral, lalu shalat berjamaah di tempat itu juga, di bawah terik panas, di atas aspal yang menyengat.” Simpulnya kepada si ustadz dan seluruh peserta kajian itu, “Jadi, tidak benar jika dikatakan bahwa panitia dan peserta tidak menghiraukan waktu shalat Zhuhur.”

Sejatinya, si pemuda hendak melanjutkan pada bantahan atas fitnah kedua. Namun, si ustadz langsung memotongnya dengan mengatakan, “Berarti antum meyakini kebenaran acara Parade Tauhid itu?”

- Advertisement -

“Iya,” tegas si pemuda yang memiliki semangat yang besar ini, “karena di sana banyak ulama’ (ulama’ adalah pewaris Nabi). Saya yakin dengan apa yang disampaikan oleh Habieb Rizieq Syihab, Kiyai Haji Muhammad Arifin Ilham, dan lain sebagainya.”

Entah apa maknanya, setelah mendengar jawaban si pemuda bersemangat itu, si ustadz dan seluruh hadirin kompak mengatakan, “Masya Allah…”

La haula wa la quwwata illa billah. “Sungguh,” ujar si ayah saat mendengarkan penuturan anaknya itu, “benarlah apa yang dikatakan oleh Kiyai Hasan al-Banna dari Mesir yang mengatakan, ‘Bersatu pada hal yang disepakati, dan memaklumi dengan sesuatu yang kita berbeda dengannya.’”

Bukan merasa paling benar dan yang lain salah. Apalagi sampai menebar fitnah. Wallahu A’lam bish-Shawwab. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -