Kisah Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani saat Digoda Setan

Panas amat menyengat. Hampir mati, Syeikh ‘Abdul Qadir didera haus akut. Tiba-tiba, angin berembus kencang, menerpa dirinya dengan membawa hawa dingin. Merasuk ke dalam tubuhnya. Bersamaan dengan itu, awan hitam menggumpal tepat di atas tempatnya berdiri.

- Advertisement -

“’Abdul Qadir,” seru sebuah suara dari arah yang sama dengan arah angin, “aku adalah Tuhanmu.”

“Engkau, Allah,” jawab Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jailani, “tiada Tuhan yang hak disembah selain Allah.”

“Aku Tuhanmu,” serunya lagi, lalu menambahkan, “Aku telah menghalalkan apa yang sebelumnya aku haramkan.”

Tak berlama-lama, Syeikh ‘Abdul Qadir pun membentak, “Kamu bohong! Kamu setan.”

Saat itu juga, awan mendung yang tadinya menaungi menjadi berantakan. Lalu, terdengarlah suara serupa untuk kedua kali, “’Abdul Qadir, kamu selamat dari kejahatanku lantaran mendalamnya ilmumu tentang Rabb semesta alam.”

Pasalnya, berdasarkan pengakuan setan, “Aku telah berhasil menipu tujuh puluh orang sebelum kamu dengan muslihat seperti ini.”

- Advertisement -

Demikianlah pentingnya ilmu, dan penjagaan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba pilihan-Nya.

Maka bertanyalah seseorang kepada Syeikh ‘Abdul Qadir, “Bagaimana Anda mengetahui kalau dia setan?”

Ungkapnya, “Ketika dia berkata ‘Aku Tuhanmu. Aku menghalalkan apa yang sebelumnya aku haramkan.’”

“Sebab,” jelas beliau sebagaimana dikutip oleh Syeikh Ibnu Muflih al-Maqdisi dalam Agar Tidak Terpedaya Setan, “setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, tidak ada lagi syariat penghalalan dan pengharaman.”

Inilah di antara bentuk bisikan dan godaan setan yang terkutuk. Godaan disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan praktik seseorang atas iman yang diyakininya. Semakin tinggi, ujian pun bertambah banyak dan menyeluruh.

- Advertisement -

Akan tetapi, Allah Ta’ala tidak menimpakan ujian melainkan seseorang mampu menyelesaikannya. Apalagi, Allah Ta’ala memberikan peluang yang leluasa kepada hamba-hamba-Nya untuk selalu memohon petunjuk, pertolongan, perlindungan, dan segala jenis kebaikan dari-Nya.

Karenanya, senantiasalah terhubung kepada Allah Ta’ala, teruslah memperbaiki diri, jangan biarkan diri menjauh dari-Nya, dan teruslah mengasah ketajaman pikir dengan ilmu, dan kepekaan hati dengan selalu berdzikir, menyebut dan mengingat nama Allah Ta’ala di sepanjang sisa kehidupan.

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari godaan setan yang terkutuk. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -