Inilah Orang Yahudi dan Nashrani yang Selamat

Yahudi berasal dari kata hawadah yang bermakna kasih sayang, atau tawahhud yang bermakna taubat. Hal ini seperti dikatakan oleh Nabi Musa ‘Alaihis Salam sebagaimana termaktub di dalam surat al-A’raf [7] ayat 156, Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya kami kembali kepada-Mu.”

- Advertisement -

Makna ayat tersebut menurut Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, “Kami bertaubat.” Orang-orang Yahudi pada awalnya adalah kelompok yang menjadi pengikut Nabi Musa ‘Alaihis salam dan berhukum dengan syariat yang dibawa oleh anak angkat Fir’aun ini.

Masih di dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, nama Yahudi dinisbatkan kepada Yahuda yang merupakan anak laki-laki tertua dari Nabi Ya’qub ‘Alaihis salam. Sedangkan Abu ‘Amr bin al-‘Ala’ mengatakan, “Disebut Yahudi karena mereka bergerak-gerak saat membaca kitab Taurat.”

Seiring berjalannya masa, tibalah zaman saat Nabi ‘Isa ‘Alaihis salam diturunkan. Allah Ta’ala pun mewajibkan kepada keturunan Yahudi yang mulanya menjadi pengikut Nabi Musa ‘Alaihis salam tersebut untuk berhukum kepada syariat yang dibawa oleh anak Maryam binti ‘Imran ini. Mereka yang menaati perintah Allah Ta’ala ini pun masyhur dengan sebutan Nashrani.

Dinamakan Nashrani karena mereka saling mendukung, tolong-menolong, dan membantu satu sama lainnya. Sebutan lain untuk mereka adalah Anshar sebagaimana termaktub dalam surat Ali ‘Imran [3] ayat 52, Allah Ta’ala berfirman,

“Maka tatkala ‘Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani lsrail), berkatalah dia, ‘Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?’ Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab, ‘Kamilah penolong-penolong (agama) Allah. Kami beriman kepada Allah. Dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.'”

Pendapat lain mengatakan, dinamakan Nashrani karena mereka mendiami sebuah tempat yang bernama Nashirah. Ini merupakan pendapat Qatadah, Ibnu Juraij, dan ‘Abdullah bin ‘Abbas yang dikutip oleh Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya.

- Advertisement -

Nah, setelah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diutus sebagai penutup para Nabi dan imam para Rasul Allah Ta’ala, kaum Bani Israil pun diperintahkan untuk mengimani semua yang dibawa oleh Muhammad, baik yang termaktub di dalam al-Qur’an maupun hadits. Apalagi, di dalam kitab Taurat dan Injil yang asli, yang dibawa oleh Nabi Musa dan ‘Isa ‘Alaihimas salam, terdapat kabar terkait diutusnya Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Maka, orang Yahudi dan Nashrani yang selamat adalah mereka yang meninggalkan syariat Nabi Musa dan ‘Isa sebagaimana termaktub dalam Taurat dan Injil, kemudian mengimani Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan meyakini semua ajaran al-Qur’an.

Sayangnya, jumlah mereka amat sedikit. Kebanyakan dari mereka sesat dan mengingkari perintah Allah Ta’ala. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -