Empat Hal yang Merupakan Kebaikan Dunia dan Akhirat

Keseimbangan adalah salah satu ciri kesempurnaan ajaran Islam. Kaum muslimin hidup di dunia, maka mereka harus memakmurkannya dengan kerja-kerja untuk kemakmuran sesama. Namun, hal itu tidak boleh menguasai hatinya sehingga berambisi terhadap dunia dan melupakan akhirat.

- Advertisement -

Sebab, siapa yang meminta dunia; Allah Ta’ala akan kabulkan permintaannya, dan tak akan berikan jatah untuknya di akhirat. Sedangkan mereka yang menjadikan akhirat sebagai obsesi tertinggi; Allah Ta’ala akan bahagiakan mereka di dunia dan akhirat.

Bahagia di dunia tidak identik dengan pencapaian materi. Bahagia adalah amalan hati yang kriterianya sudah dijelaskan oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Berikut ini empat hal yang merupakan kebaikan dunia dan akhirat sebagaimana dinasihatkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam riwayat Imam at-Tirmidzi dan Ibnu Majah.

Hati yang Syukur

Menerima semua nikmat yang Allah Ta’ala berikan dengan hati lapang dan memanfaatkannya untuk beribadah kepada-Nya. Syukur yang sempurna dilakukan dalam tiga tahap; hati, lisan dan perbuatan. Maka syukurnya hati adalah awal mula syukur dengan lisan dan perbuatan.

Hati yang syukur akan senantiasa ridha dengan ketetapan Allah Ta’ala. Meski sebanyak apa pun nikmat yang Dia berikan, orang-orang yang bersyukur akan senantiasa menggunakannya di jalan taat dan tak sedikit pun menjerumuskan mereka dalam dosa atau maksiat.

Lisan yang Dzikir

Dzikir yang merupakan ibadah tanpa batas tempat dan waktu adalah salah satu pangkal dari semua kebaikan. Memuji nama Allah Ta’ala dalam tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil adalah bukti bahwa seorang hamba mencintai penciptanya.

Dzikir inilah yang menjadikan hati tenang, pikiran cerah, dan tubuh senantiasa sehat. Maka dzikir juga menjadi pembeda antara orang beriman dan orang yang kafir, juga membedakan orang yang benar imannya dan orang yang hanya mengaku-ngaku beriman.

Sabar dalam Ujian

- Advertisement -

Bahwa hidup adalah ujian dan sabarlah penawarnya. Berat atau ringannya ujian adalah salah satu tanda yang menunjukkan kelas seorang hamba di hadapan penilaian-Nya. Pasalnya, mereka yang beriman dari golongan Nabi dan Utusan Allah Ta’ala adalah sosok yang paling berat ujiannya.

Ujian yang dijalani dengan sabar akan semakin mendekatkan seseorang kepada Allah Ta’ala, meninggikan derajat di sisi-Nya, dan menjadi bukti benar atau tidak pengakuan imannya.

Istri tidak Khianat

Perhiasan paling indah adalah wanita. Sebaik-baik wanita adalah istri yang shalehah. Maka tak ada yang lebih nikmat bagi seorang suami selain kehadiran sosok yang menjaga diri dari syirik, menutup aurat secara syar’i, kuat menjalankan sunnah, dan berbakti kepadanya sebagai wujud taatnya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.

Itulah istri yang tidak khianat; yang menyejukkan saat dipandang, mendamaikan saat didekati, menenangkan ketika harus ditinggal karena kewajiban mencari nafkah atau kepentingan perjuangan di jalan Allah Ta’ala.

Maka, upayakanlah empat hal itu dalam diri kita. Insya Allah, kebaikan dunia dan akhirat telah tunai kita kumpulkan. Dan, jangan lalai untuk senantiasa menjaganya hingga akhir hayat. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -