Ayat yang Membuat Pingsan Murid Abdullah bin Mas’ud

Beliau bukan laki-laki biasa. Beliau menjadi salah satu laki-laki surgawi yang keshalihannya diakui oleh orang-orang shalih lainnya. Bertemu laki-laki ini, Abdullah bin Mas’ud yang merupakan sahabat utama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata, “Demi Allah, jika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melihatmu, pastilah beliau menyukaimu. Tatkala melihatmu, maka aku teringat kepada orang-orang yang khusyuk.”

- Advertisement -

Itulah sekelumit pengakuan sang guru, Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu, kepada salah satu murid terbaiknya, Rabi’ bin Khutsaim Rahimahullah.

Suatu hari, dua laki-laki shalih ini melakukan perjalanan ke sebuah daerah di tepi sungai Eufrat. Diriwayatkan oleh Imam adz-Dzahabi dalam Tadzib at-Tadzib, keduanya bertemu dengan beberapa pandai besi. Tatkala menyaksikan kobaran api dan mendengar suara yang ditimbulkan, Rabi’ bin Khutsaim membaca ayat ini secara spontan,

“Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya.” (Qs. al-Furqan [25]: 12)

Setelah sempurna melafalkan ayat ini, tutur Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah Rahimahullah dalam penjelasan Risalah al-Mustarsyidin, “Dia jatuh pingsan. Ketika masuk waktu Zhuhur, Abdullah bin Mas’ud memanggilnya, ‘Wahai Rabi’!’, namun dia tidak menjawab. Maka Abdullah bin Mas’ud mendirikan shalat Zhuhur berjamaah, lalu kembali memanggilnya, ‘Wahai Rabi’!’, tapi dia tidak juga menjawab.”

Kondisi pingsan karena terbayang neraka ini bukan hal yang mudah. Tidak semua orang shalih bisa menggapai derajat ini. Hanya orang-orang terpilihlah yang dikaruniai oleh Allah Ta’ala untuk bisa menggapai maqam ini.

Dalam kisah selanjutnya, Rabi’ bin Khutsaim tetap tak sadarkan diri hingga memasuki waktu pagi keesokan harinya. Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu sudah berkali-kali membangunkan, tapi murid terbaiknya ini tak kunjung siuman.

- Advertisement -

Terhadap kisah seperti inilah seharusnya kita menerbitkan iri. Kisah langka yang jarang dijumpai tandingannya. Kisah yang mungkin saja terlihat aneh dan mustahil bagi telinga sebagian kita yang mengaku Muslim ini.

Dari kisah ini, akhirnya kita perlu menyadari dengan hati yang paling dalam. Bahwa surga amatlah jauh jaraknya bagi kita. Sejauh jarak keshalihan kita dengan generasi tabi’in dan sahabat, atau bahkan lebih jauh lagi.

Akan tetapi, mari tetap mencintai mereka. Sebab cinta karena Allah Ta’ala kepada orang-orang shalih, kelak akan menjadi penyelamat bagi kita di akhirat. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kebahagiaan Hakiki, Hikmah dari Cerita Danau Sebening Air Mata

Seorang pemuda mengembara sekian lama demi menemukan hakikat kebahagiaan. Ia bertanya pada banyak orang. Juga para sufi. Apa itu kebahagiaan hakiki.

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...