Aku Sudah Tua, Pasti Kau Tak Inginkan Diriku

Kemuliaan diberikan oleh Allah Ta’ala kepada siapa yang dikehendaki-Nya melalui jalan yang mulia pula. Pun dengan kehinaan, akan ditimpakan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dengan cara yang menyedihkan dan menjijikan. Maka beruntunglah mereka yang bergegas dalam menggapai kemuliaan, dan celakalah mereka yang bersusah payah melakukan amalan dunia nan menjerumuskan dirinya kepada jurang kehinaan.

- Advertisement -

Kemuliaan, dalam banyak kasus, justru diberikan oleh Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya yang terlihat kecil dan remeh dalam pandangan manusia biasa. Seperti kekuasaan yang diberikan kepada Thalut. Padahal, ia adalah sosok yang tak berharta, bukan pula dari keturunan yang terhormat. Dalam perjalanannya, Tholut berhasil mengalahkan Jalut yang pongah.

Dalam sejarah kegemilangan Islam pun kita temui sebuah fakta; mereka yang berhasil memimpin dan menaklukan dunia berasal dari keturunan Quraisy yang penggembala kambing, tak kuasa menulis, dan tak pandai membaca. Namun, lantaran dekatnya mereka dengan Allah Ta’ala, Dia pun memuliakan mereka.

Seorang badui, kisah Dr. Abdullah bin Azzam, berhasil menangkap seorang putri dari kalangan musuh. Nama wanita itu Malikah binti Abdul Masih. Kecantikannya amat masyhur di seantero negeri. Tak tertandingi. Karenanya, banyak syair yang lahir untuk memuji pesona fisiknya itu. Setelah berhasil menangkap wanita tercantik pada masanya itu, orang badui ini berkata, “Alhamdulillah. Selesai sudah. Dunia telah menjadi milikku.”

Seraya bersiasat, Malikah pun merayu orang badui itu dengan mengatakan, “Barangkali engkau telah mendengar tentang diriku pada waktu masih muda. Sekarang, aku telah tua, pasti engkau tidak menginginkan diriku, demikian pula aku.”

Ucapnya sampaikan tawaran, “Jika engkau mau, maka ambillah tebusan berapa saja yang kau mau, lalu tinggalkanlah diriku.”

“Ya,” ujar sang badui, “aku mau. Aku mau seribu. Seribu dirham.”

- Advertisement -

Malikah pun mengeluarkan sejumlah uang yang diminta sang badui itu. Sebelum pergi, Malikah bertanya, “Mengapa engkau tidak meminta lebih dari seribu dirham?”

Dengan polos dan memang tak miliki pengetahuan tentang hal ini, badui ini berkata, “Apa ada yang lebih besar dari seribu dirham?”

Kisah yang diceritakan oleh Dr Abdullah Azzam ini adalah salah satu bukti betapa orang-orang badui itu bukanlah sosok yang pandai secara intelektual. Namun, dengan keimanan yang benar, Allah Ta’ala memuliakan mereka. Apalagi jika mereka melakukan jihad di jalan Allah Ta’ala. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -