3 Tingkatan Manusia dalam Mendapat Rezeki (Rezeki yang Diupayakan)

Rezeki yang Diupayakan

Allah Ta’ala memberikan rezeki kepada siapa yang Dikehendaki-Nya dan menahannya kepada siapa yang Dikehendaki-Nya. Dia juga membedakan pemberian rezeki antara satu hamba dengan hamba yang lainnya. Mengapa demikian? Apakah ini bentuk ketidakadilan Allah Ta’ala soal rezeki yang seharusnya disamaratakan?

- Advertisement -

Justru, perbedaan jatah rezeki ini menjadi salah satu bentuk Mahaadil-Nya Allah Ta’ala dan Mahakuasa-Nya. Ada hikmah di balik semua kejadian yang Dia takdirkan di muka bumi ini. Ada kebaikan dalam setiap Kehendak-Nya. Sayangnya, hanya orang-orang berimanlah yang kuasa menangkap hikmah di balik semua Kuasa-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Allah Ta’ala berfirman,

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu menjaganya bergiliran, dari depan dan belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang mampu menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Qs. Ar-Ra’d [13]: 11)

Di tingkatan ini, tambahan rezeki hanya akan diberikan  bagi mereka yang berusaha. Maka jumlah rezeki antara mereka yang bergegas di pagi hari tidaklah sama dengan siapa saja yang tertidur malas ketika ayam telah mencari rezeki.

Apalagi, di pagi hari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjamin keberkahannya. Karenanya pula, ada begitu banyak ekspedisi jihad yang diutus dan bergegas di pagi hari tepat setelah shalat Shubuh usai. Alhasil, dapatlah kita pahami, mengapa ada orang yang tidak kunjung kaya, rezekinya itu-itu saja, sebab dirinya amat jarang mendirikan Shubuh jamaah, senantiasa kesiangan, lalu mendirikan dengan terburu-buru, dan masih tidur lagi hingga mentari meninggi.

Padahal, ada begitu banyak orang yang sudah bergegas. Di antara mereka menyambut karunia Allah Ta’ala dengan iman yang membuncah, bahkan orang-orang kafir pun bergegas bekerja untuk dunia mereka di pagi hari. Mereka bangun pagi, membersihkan badan, menikmati sajian fisik berupa sarapan bergizi, menghirup udara segar, lalu keluar menuju tempat kerja dengan optimisme yang membuncah. Penuh.

- Advertisement -

Lantas, mereka yang malas-malasan, baru bangun di siang hari, lihat saja kehidupannya. Apalagi jika kebiasaan itu berlangsung lama dan tidak ada paksaan dari dalam diri untuk berubah.

Ayat di atas juga menjadi bukti, bahwa jumlah rezeki antara pegawai malas berbeda dengan rezeki pegawai prestatif, jumlah yang diterima pegawai negeri tidak sama dengan jatah yang diberikan kepada kuli pasar, gaji presiden berbeda dengan para menterinya, dan sebagainya.

Sebab Allah Ta’ala telah menjamin di awal, maka perluaslah jangkauannya, tambahlah kapasitas untuk menerima lebih, dengan senantiasa berusaha memperbaiki kualitas diri. Bermula dari kemampuan spiritual, fikir yang terus diasah, dan ketrampilan fisik yang kudu terus diperbaiki. Insya Allah, rezeki akan mengejar-ngejar Anda. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -