3 Tingkatan Manusia dalam Mendapat Rezeki (Rezeki yang Dijanjikan)

Rezeki yang Dijanjikan

Setelah rezeki yang terjamin dan rezeki yang diusahakan, tingkatan ketiga adalah rezeki yang dijanjikan. Bisa dibilang, inilah tingkatan tertinggi. Siapa saja yang bisa menghimpunnya dengan dua tingkatan sebelumnya, kelak dialah orang-orang terpilih yang dikurniai amanah perbendaharaan-perbendaharaan dunia yang harusnya dipegang oleh orang shalih dan dimanfaatkan untuk kepentingan kaum Muslimin.

- Advertisement -

“Dan ingatlah ketika Tuhamu memaklumkan,” Firman Allah Ta’ala dalam Surat Ibrahim [14] ayat 7, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), sungguh adzab-Ku sangat pedih.”

Allah Ta’ala menjanjikan rezeki tambahan bagi siapa saja yang mensyukuri nikmat dari Allah Ta’ala. Syukur ini tabiat yang berkorelasi positif dengan kualitas keimanan. Sebaliknya, syukur tidak ada kaitannya dengan seberapa banyak harta yang diberikan kepada seorang hamba.

Karenanya, banyak sekali orang miskin yang bersabar, dan sifat itu bermakna syukur baginya. Dan banyak pula orang kaya raya yang justru sibuk mengeluh, enggan mengeluarkan zakat dan sedekah, hobi menumpuk kekayaan, dan hal itu bermakna kufur terhadap nikmat-nikmat yang Allah Ta’ala berikan kepadanya.

Syukur terwujud dalam tiga amalan; hati, lisan, perbuatan. Syukur dengan hati adalah keyakinan penuh bahwa Allahlah yang memberi rezeki. Alhasil, mereka tak pernah mengeluh atas sekecil apa pun rezekinya, sebab tahu bahwa yang memberi adalah Zat Yang Mahabesar.

Setelah yakin di hatinya tumbuh dan berkembang, mereka melanjutkan syukur dengan lisan. Ialah sibuk memuji, mensucikan, dan mengagungkan asma Allah Ta’ala di setiap keadaan dan waktunya. Mereka sibuk berdzikir sambil berbaring, duduk, ataupun berdiri. Mereka juga senantiasa melafal kalimat-kalimat Allah Ta’ala di kala senang, sedih, maupun gulandanya.

Dua amalan syukur inilah yang akhirnya menjadi penentu terhadap syukur yang ketiga, dan inilah tingkatan syukur yang paling tinggi; syukur dengan amal shalih. Sehingga yang dilakukan adalah sibuk shalat wajib dan sunnah, berjamaah di masjid, zakat, infaq, sedekah, tahajjud, dhuha, membaca al-Qur’an dan menghafalnya, menjaga wudhu, senantiasa tersenyum, bekerja dengan giat, dan amalan-amalan memakmurkan bumi lainnya.

- Advertisement -

Maka bagi mereka ini, ucap Aa Gym, “Kerjanya adalah ibadah. Usaha bisnisnya juga ibadah.”

Orientasi mereka bukan sekadar uang, keuntungan, atau keterkenalan. Yang sibuk mereka tuju di setiap waktu dan upaya adalah Allah Ta’ala yang Mahaagung. Semoga kita menjadi kelompok yang berhasil mengombinasikan tiga tingkatan rezeki ini. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...

Sejarah Bulan Muharram dan Peristiwa Penting yang Terjadi di Dalamnya

Bulan Muharram (المحرم) adalah bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Bagaimana sejarah bulan muharram dan peristiwa penting apa saja yang terjadi di dalamnya?