3 Jenis Pelaku Dosa

Dosa adalah pangkal keburukan dan sebab utama keterjerumusan seorang hamba. Dosa juga dinisbatkan kepada segala sesuatu yang dapat menjauhkan seorang hamba dari Allah Ta’ala sebagai Zat yang seharusnya didekati. Dan segala jenis maksiat, ianya terbilang juga dosa yang harus dihindari sejauh-jauhnya.

- Advertisement -

Para pelaku dosa, menurut Imam al-Harits al-Muhassibi, dibagi menjadi 3 kelompok.

Jenis pertama dihuni oleh orang yang senantiasa menakut-nakuti diri untuk bertaubat. Ia mengerahkan segala kemampuan untuk menangis, menyesali perbuatan, dan berbagai upaya agar bersegera menyambut ampunan Allah Ta’ala melalui taubat yang sungguh-sungguh.

“Ia,” tutur Imam al-Harits, “senantiasa menangis, bersedih, dan menyesali maksiat yang pernah dikerjakannya. Ia senantiasa menakut-nakuti diri untuk bertaubat, dan tidak berhenti pada rasa takutnya itu.”

Mereka adalah orang yang peka terhadap segala jenis pelanggaran yang pernah dilakukannya sebagai manusia biasa. Kepekaan itulah yang menjadi pemicu sehingga mereka bergegas untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala.

Golongan kedua adalah orang yang menyesali setiap kesalahan dan dosa yang mereka lakukan. Bedanya, mereka ini tidak menakut-nakuti diri untuk bertaubat sebagaimana penyesalan kelompok pertama. Persamaannya, kelompok ini senantiasa berupaya untuk melakukan pertaubatan atas sekecil apa pun dosa yang pernah dikerjakan; disengaja atau tidak, tersembunyi atau terang-terangan.

Sedangkan kelompok terakhir dan terburuk, semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari masuk ke kelompok ini, ialah mereka yang tidak peka terhadap kesalahan diri, senantiasa bermaksiat, bangga dan menyiarkan perbuatan dosanya.

- Advertisement -

“Mereka adalah orang yang menyepelekan dosa dan menganggap dosanya itu sepele dalam pandangan Allah Ta’ala,” tutur guru Imam Junayd al-Baghdadi ini.

Karenanya, mereka tidak henti-hentinya melakukan kerusakan melalui dosa yang dikerjakan. Tiada henti. Terus seperti itu. Sepanjang hari. Selama masa hidupnya.

Bagi mereka, tiada hari tanpa melakukan dosa. Tak ada satu detik pun terlewat, kecuali melakukan maksiat dan kesalahan. Menyedihkan. Mengenaskan. Amat disayangkan. Padahal, ampunan Allah Ta’ala senantiasa terbuka sepanjang waktu hingga matahari terbit dari arah barat.

Kelompok ini persis seperti sindiran Allah Ta’ala di dalam surat an-Nur [24] ayat 15, “Kamu menganggapnya sesuatu yang ringan saja. Padahal, dia pada sisi Allah adalah besar.”

Ketahuilah wahai diri, tiada dosa kecil jika dilakukan terus menerus. Dan tidaklah dosa itu menjadi besar, kecuali karena yang kecil sudah menjadi kebiasaan. Wallahu a’lam. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...

Sejarah Bulan Muharram dan Peristiwa Penting yang Terjadi di Dalamnya

Bulan Muharram (المحرم) adalah bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Bagaimana sejarah bulan muharram dan peristiwa penting apa saja yang terjadi di dalamnya?