Mengapa Ikhlas Sulit Dilakukan?

Ikhlas itu mudah diucapkan, gampang ditulis, sederhana dibicarakan, tapi amat sukar untuk dikerjakan. Padahal, ikhlas adalah satu di antara dua kunci diterimanya amal selain meneladani Rasulullah Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam.

- Advertisement -

Ikhlas sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an ialah beramal hanya karena Allah Ta’ala seraya memurnikan ibadah kepada-Nya dan tidak mensekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Murni. Bagai susu yang terhindar dari nanah dan darah. Bersih. Tanpa cela.

Ikhlas sebagaimana disebutkan dalam hadits, ialah beramal karena Allah Ta’ala dan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Jika berhasil, balasannya surga. Dan andai menyimpang, maka seorang hamba hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Entah harta, kedudukan, wanita, wilayah, atau apa pun selain Allah Ta’ala dan Rasul-Nya yang mulia.

Ikhlas itu rumit. Apalagi, ianya tidak bisa diindra. Ianya menjadi rahasia agung antara seorang hamba sebagai pelaku dengan Allah Ta’ala Yang Mahatahu. Sukar. Sulit. Banyak ujiannya.

Di sinilah peliknya; ikhlas itu sukar, tapi kita diperintahkan untuk melakukannya.

Sebenarnya, mengapa ikhlas sulit dilakukan? Mengapa Allah Ta’ala menjadikannya demikian? Bukankah mudah saja bagi-Nya untuk membuat semua hamba-hamba-Nya menjadi sosok ikhlas yang hanya mengharapkan ridha-Nya semata?

Imam Sahl bin Abdullah al-Tustari, menjelaskan sebab sukarnya ikhlas dengan mengatakan, “Ikhlas merupakan sesuatu yang paling sukar bagi jiwa. Sebab nafsu tidak pernah menyediakan tempat untuknya.”

- Advertisement -

Sebabnya, nafsu. Nafsu itu, dilatih oleh setan terlaknat. Nafsu itu, jika menguasai seorang hamba, ianya bisa mengalahkan akal sehat hingga membutakan. Nafsu itu jahat. Nafsu itu membinasakan. Namun, manusia juga membutuhkan nafsu sesuai kadarnya guna kelangsungan hidup dan derajat yang tinggi jika bisa menundukkannya.

Maka, di antara kiat yang disampaikan oleh para ulama terdahulu, adalah dengan memperdalam ilmu seraya menguatkannya dengan dzikir-dzikir agar hati senantiasa fokus kepada Allah Ta’ala. Sebab, jika hati sudah sibuk dengan Allah Ta’ala, ianya tak sedikit pun mau berpaling kepada hal-hal remeh selain-Nya.

Tapi, di sini terletak kesukaran lainnya; sebab kita senantiasa terhubung dengan hal-hal duniawi dalam kehidupan sehari-hari.

Hal lain yang tak bisa dilepaskan dalam upaya menuju keikhlasan ialah dengan senantiasa berdoa. Semoga Allah Ta’ala memudahkan usaha kita untuk menjadi hamba yang ikhlas. Semoga Allah Ta’ala memilih kita menjadi orang-orang terpilih lantaran keikhlasan kepada-Nya. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...

Ciri Orang yang Mendapat Lailatul Qadar

Lailatul qadar memang tidak bisa dipastikan tanggal berapa turunnya. Namun ada tanda-tandanya sebagaimana disebutkan dalam hadits dan dijelaskan para ulama. Lalu bagaimana...