Kisah Muslimah yang Pernah Tolak Lamaran Nabi karena Enggan Tinggalkan Yahudi

Sejarah kehidupan seseorang benar-benar misterius. Ada yang mengawalinya dengan Islam, menjalani hidup dalam iman, tapi berakhir mengenaskan dalam kekafiran. Na’udzubillahi min dzalik. Sebaliknya, ada yang hidup dalam gelimang sia-sia, dosa, dan maksiat, lalu mendapat hidayah dan mati dalam keadaan beriman kepada Allah Ta’ala.

- Advertisement -

Wanita keturunan Yahudi ini, mendapati kisah kedua. Setelah hidup dalam agama Yahudi, mengikuti keluarga dan masyarakatnya, ia sempat menolak saat ditawari Islam dan menjadi istri Rasulullah Shalllalahu ‘Alaihi wa Sallam.

Setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin menyelesaikan urusan dengan Yahudi Bani Quraizhah karena melanggar perjanjian, “Nabi tertegun melihat seorang tawanan perempuan.” Lantaran prihatin dan iba, demikian ini dituturkan oleh Dr Nizhar Abazhah dalam Bilik-Bilik Cinta Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Dipilihlah wanita itu dan ditawari untuk dibebaskan dan dijadikan istri.”

Lebih dari durian runtuh, wanita ini mendapatkan rezeki yang teramat agung. Menjadi manusia bebas setelah tertawan, dijadikan istri oleh laki-laki paling terhormat sejagad, dan dibebaskan dari Yahudi menuju Islam yang mulia.

Sayangnya, wanita itu menolak lantaran enggan meninggalkan agama Yahudi yang dipeluknya. Katanya, “Biarlah saya menjadi tawananmu saja.” Menyedihkan. Dikasih daging, malah memilih bangkai.

Sebagai bentuk kebijakan dan pesona akhlaknya, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak melakukan paksaan. Padahal, sebagai pemimpin dan pihak yang menang dalam sebuah ekspedisi perang, hal itu bisa saja ditempuh. Tapi Nabi, memang amat beda dengan pemimpin mana pun. Beliau pemimpin pilihan Allah Ta’ala.

“Rasulullah sedih,” lanjut Dr Nizar Abazhah, “dan berharap suatu saat kelak, wanita itu akan menerima Islam.”

- Advertisement -

Qadarullah, doa Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam terkabul. Wanita Yahudi ini menerima Islam dengan suka rela. “Kabar ini disambut gembira oleh Nabi.” Sang wanita pun bergabung menjadi keluarga kenabian dan hidup bahagia penuh kedamaian sampai tahun kesepuluh Hijriyah.

Sepulang Haji Wada’, Ibunda Kaum Mukminin ini wafat. Dengan terhormat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memakamkannya di kompleks pemakaman Baqi.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan rahmat dan ridha-Nya kepada Ummul Mukminin Raihanah yang telah memberikan pelajaran kepada kita tentang kisah hidup yang berliku, namun berakhir dalam bahagia di surga.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...