Tuhan Kok Makan?!

Di dalam al-Qur’an, banyak sekali disebutkan argumen-argumen untuk membantah kaum-kaum yang tidak meyakini Allah Ta’ala dan menjadikan tandingan-tandingan selain-Nya. Pendapat-pendapat untuk membantah mereka itu terjamin kebenarannya. Sebab yang memberitahukan adalah Allah Ta’ala, satu-satunya Zat yang hak disembah.

- Advertisement -

Misalnya, argumen yang disampaikan oleh Nabi Ibrahim ‘Alaihis salam kepada ayahnya, kalimat-kalimat untuk membantah umat Nashrani dan Yahudi, dan lain sebagainya. Di antara yang paling banyak disebutkan adalah fakta yang Allah Ta’ala Firmankan guna membantah kesesatan kaum Nashrani yang menjadikan ‘Isa bin Maryam sebagai sesembahan.

Sebagaimana diketahui, kaum Nashrani menjadikan Tuhan berjumlah tiga. Pasalnya, ‘Isa terlahir tanpa ayah. Maka, ayahnya itu disebut Tuhan Bapa. Padahal, Nabi Adam ‘Alaihis salam terlahir tanpa ayah dan tanpa ibu, tetapi mengapa tidak mereka klaim sebagai Tuhan?

Padahal, Allah Ta’ala telah menegaskan, “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa Rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar,” (Qs. al-Maidah [5]: 75)

“Ia,” terang Imam Ibnu Katsir yang dinisbahkan kepada ‘Isa bin Maryam, “sama seperti seluruh Rasul lain yang datang sebelumnya.” Lanjut sang Imam menegaskan, “Ia tak lebih, hanyalah seorang hamba dan Rasul-Nya yang mulia.”

Sedangkan terkait bunda Maryam, di dalam ayat ini disebutkan bahwa beliau adalah wanita yang beriman dan membenarkan kerasulan anaknya. Dijelaskan oleh sang imam dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim ini, “(Maryam) beriman dan memebenarkannya (‘Isa bin Maryam). Yang demikian itu merupakan kedudukan Maryam yang paling tinggi.” Selain itu, ayat ini juga menjadi dalil bahwa Maryam bukanlah Nabi, tetapi orang-orang terpilih selayak ayahnya (‘Imran), Luqman, dan nama-nama lain yang disebutkan dalam al-Qur’an tetapi bukan seorang Nabi atau Rasul.

Nah, keduanya-‘Isa bin Maryam dan Maryam binti ‘Imran-ini, disebutkan di ayat ini, “Keduanya biasa memakan makanan.” Maknanya, masih menurut Imam Ibnu Katsir, “Keduanya tetap membutuhkan makanan dan mengeluarkan kotoran.” Karena dua hal itu, “Maka keduanya adalah hamba Allah Ta’ala selayaknya manusia lainnya.”

- Advertisement -

Tegasnya sampaikan kesimpulan, “Jadi, mereka bukan ilah (Tuhan, sesembahan) sebagaimana didakwakan oleh golongan-golongan Nashrani karena kebodohan mereka.”

Di akhir ayat ini, Allah Ta’ala berfirman, “Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).” (Qs. al-Maidah [5]: 75)

Maknanya, “Perhatikanlah penjelasan dan keterangan tersebut. Ke manakah mereka pergi? Pada pendapat manakah mereka akan berpegang? Kepada mazhab sesat manakah yang akan mereka ikuti.”

Sejujurnya, dari satu kalimat “Keduanya biasa memakan makanan” saja, kita sudah bisa bertanya dengan amat logis, “Tuhan kok makan???” [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -