Kisah untuk Tuan Presiden Jokowi

Sepekan terakhir ini, beredar berita bahwa Tuan Presiden Jokowi mewacanakan untuk memberlakukan hukuman terhadap siapa pun yang menghina beliau. Wacana ini pun rame, lalu ditanggapi oleh Engkong Haji Jusuf Kalla dan salah satu menteri di Kabinet Kerja. Media pun rame-rame mangangkat tema ini, dan hampir mengalahkan berita lain yang berembus kencang di negeri ini.

- Advertisement -

Sejatinya, apa yang diwacanakan oleh Tuan Presiden ini bukan hal yang baru. Apalagi jika kita pernah hidup di era 80-90an. Di zaman itu, siapa pun yang tidak sepakat dengan pemerintah, bisa diketahui ujungnya. Baik yang diasingkan oleh mayoritas, hingga langsung menghilang entah ke mana dan entah siapa yang menyuliknya.

Padahal, jauh sebelum era itu, apa yang disebut penghinaan terhadap presiden atau siapa pun yang mengurusi hajat hidup orang banyak, tentu tak bisa dielakkan. Apa yang disebut penghinaan itu, baik berupa gambar atau media lain, juga dialami oleh para presiden sebelumnya. Bahkan, sosok yang tak sekelas presiden atau belum menjadi presiden pun mengalami hal serupa.

Masih lekat dalam ingatan kita, di ujung masa jabatannya, kita melihat seekor kerbau besar, hitam, dan tinggi yang diangon (bahasa jawa. Baca: dibiarkan berkeliaran dengan pengawasan si empunya) di halaman gedung KPK. Di tubuh si kerbau itu, dituliskan besar-besar nama sang presiden yang menjabat waktu itu; dengan pilok berwarna putih yang terdiri dari tiga huruf, berupa singkatan.

Lalu, selepas sang presiden menyelesaikan jabatannya selama dua periode atau sepuluh tahun, saat rame kampanye menjelang pemilihan presiden Juli 2014 silam, kita juga disuguhi sebuah kampanye hitam secara massif, “Jangan pilih calon ini. Kita bisa kembali ke periode era 80-90an. Kebebasan tidak berlaku. Akan banyak penangkapan.”

Lantas, bagaimana sebenarnya? Apakah apa yang disebut penghinaan itu dibolehkan? Lalu, bagaimana menyikapinya?

Maka, berlakulah adil. Bahwa menghina tidak diajarkan di agama mana pun. apalagi menghina kebaikan. Jika pun buruk, maka ada mekanisme dakwah yang intinya mengajak dengan cara hikmah. Hendaknya, antara yang merasa dihina dan yang menghina saling berkaca kepada hati nurani masing-masing. Sebab, tak ada satu pun manusia yang sempurna. Jangankan presiden, Nabi pun pernah melakukan salah. Tapi, kesalahan Nabi diampuni. Mereka pun bertaubat kepada Allah Ta’ala atas kesalahannya. Bahkan, para Nabi dihina lebih keji dari sekadar hinaan yang diterima oleh Tuan Presiden.

- Advertisement -

Oh ya, terkait apa yang disebut penghinaan ini, saya ingin berbagi satu kisah. Nyata. Terjadi di salah satu negeri di Arab sana. Menariknya, sebab dihina itu, si Fulan-sebut saja demikian-justru merasa termotivasi.

Kejadiannya, ia adalah sosok rendahan. Di suatu siang, ia kehausan. Melihat air minum tergeletak, ia pun bergegas mengambil dan hendak meminumnya. Tepat ketika air hendak dituangkan di mulutnya, ada pekerja dari negara lain yang melarangnya, “Kau tak boleh meminumnya. Ini adalah minum untuk para insinyur.”

Kesal, si Fulan pun menahan hausnya. Ia bergegas pergi membawa hinaan yang nyata-nyata dilemparkan di mukanya. Tetapi, ia berbenah. Bekerja sungguh-sungguh, terus belajar, dan tak pernah menyerah. Akhirnya, hasil pun tak pernah mengkhianati proses. Si Fulan sukses dan berhasil menduduki jabatan tinggi di perusahaan yang bergerak di bidang perminyakan itu.

Hingga,setelah lama tak bersua dengan si insinyur yang menghinanya, keduanya pun dipertemukan. Menakjubkan; si Fulan berhasil menjadi atasannya. Tapi, ia tidak sombong dan justru berterima kasih.

Bagi siapa pun, jangan mudah melontarkan hinaan. Rajinlah memperbaiki diri. Itu lebih penting. Demi kehidupan yang lebih baik di dunia dan akhirat. Jika memang pengangguran dan hanya bisa bekerja dengan menghina, sebaiknya bertaubat. Minimal, menikahlah. Kelak, Anda akan memiliki banyak sekali kesibukan bersama pasangan hidup Anda.

- Advertisement -

Bagi Tuan Presiden yang merasa terhina, jadilah seperti si Fulan. Buktikan bahwa Anda mampu. Kerj saja. Kerja lagi. Dan, kerja terus. Buktikan kepada siapa pun yang Anda sebut mengina itu. Bukankah jamu Solo emang terasa pahit, tetapi menyehatkan? Bukankah, Anda pernah bilang, “Cukup dua minggu, kelar!”

Selanjutnya, berikan kanal dan sosialisasikan. Agar apa yang disebut penghinaan itu bisa dialamatkan secara tepat. Agar tidak salah media. Agar sampai kepada Anda dengan baik, lalu diperbaiki.

Tuan Presiden, semoga tulisan ini sampai kepada Anda. Jujur, saya amat sedih ketika beredar berita penginaan terhadap Anda yang disampaikan oleh sebuah media negara tetangga. Saya jadi teringat perkataan ibu saya di kampung, “Anak itu, enak kalau dimarahin (dihina) sendiri. Tapi sakit hati jika dimarahin (dihina) orang lain.”

Duh! [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -