Tiga Akibat Maksiat menurut ‘Ali bin Abi Thalib

Maksiat dan dosa adalah penyebab utama keburukan. Keduanya merupakan faktor utama yang menjauhkan seseorang dari Allah Ta’ala. Padahal, Allah Ta’ala adalah sumber kebaikan. Maka, siapa yang jauh dari-Nya berarti ia menjauh sejauh-jauhnya dari sumber kebaikan.

- Advertisement -

Berikut adalah tiga akibat buruk maksiat menurut Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib, sahabat dan menantu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang yang pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak.

Lemah dalam Ibadah

Ibadah adalah tugas utama seorang hamba. Allah Ta’ala menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya di sepanjang usianya. Karenanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diutus untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama menuju penyembahan kepada Allah Ta’ala semata.

Ibadah adalah bekal. Ibadah adalah bukti keimanan. Ibadah adalah kebutuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Ibadah adalah keuntungan yang tak ada sedikit pun kerugian di dalamnya. Ibadah adalah amal shaleh yang tak terbatas pada ritual semata. Bahkan perbuatan baik kepada sesama manusia adalah jenis ibadah yang pahalanya bisa menyelamatkan seorang hamba.

Maka ibadah hanya bisa dilakukan dengan baik oleh mereka yang jauh dari maksiat dan dosa. Sebab maksiat dan dosa akan menimbulkan noda hitam pada hati, dan menjadi sebab utama kemalasan dan kelemahan dalam beribadah.

Sempitnya Rezeki

Rezeki adalah semua kebaikan yang dikaruniakan oleh Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Ia tak terbatas pada harta, dunia, dan pernak-pernik fana lainnya. Maka sebaik-baik rezeki adalah ketaatan kepada Allah Ta’ala dan kekuatan untuk menjalankan sunnah Rasul-Nya di sepanjang kehidupan.

Para pelaku maksiat akan dijauhkan dan disempitkan dari rezeki. Jika pun mereka bisa mengupayakan dan menghasilkan banyak capaian rezeki berbentuk materi, sejatinya hal itu hanya akan menjauhkan mereka dari Allah Ta’ala, sejauh-jauhnya. Sebab rezeki materi itu digunakan untuk menentang semua aturan-Nya.

Mengurangi Lezatnya Kehidupan

- Advertisement -

Maknanya adalah nikmat yang Allah Ta’ala berikan. Para pelaku maksiat, bisa jadi memiliki banyak harta dan sekian banyak pencapaian dunia. Tapi semuanya itu tidak dirasakan sebagai kenikmatan. Bahkan, pencapaian-pencapaian itu hanya menimbulkan keserakahan.

Sedangkan orang-orang beriman yang jauh dari maksiat dan senantiasa menyesali dosa yang dilakukan, sekecil apa pun nikmat yang dikurniakan kepadanya akan dirasakan sebagai sebuah karunia besar sebab yang memberikan adalah Allah Ta’ala Yang Mahabesar.

Semoga Allah Ta’ala jauhkan kita dari maksiat dan dosa. Aamiin. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Inilah Ayat yang Membuat Umar Masuk Islam

Kemarahan Umar bin Khattab memuncak. Ia merasa agama baru telah membuat ajaran nenek moyangnya terinjak-injak. Maka ia ambil pedang, lalu pergi untuk mengakhiri apa...

Jenazah Utuh Thalhah bin Ubaidillah Saat Makamnya Dipindah

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu gugur sebagai syahid pada Perang Jamal. 30 tahun kemudian, saat kaum muslimin memindahkan makamnya, mereka menyaksikan sebuah keajaiban. Jenazah...

Kisah Umar Marah kepada Abu Bakar Melebihi Marahnya kepada Utsman

Umar bin Khattab pernah marah kepada beberapa sahabat, terutama Abu Bakar Ash Shiddiq. Saat itu Umar sedang berduka karena menantunya meninggal dunia sehingga putrinya...

Penasaran Hadits Ini, Istri-Istri Nabi Mengukur Panjang Tangannya

Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai beliau. Tak hanya ingin menemani beliau di dunia, para ummul mukminin juga ingin segera menyusul Rasulullah...