Tiga Akibat Maksiat menurut ‘Ali bin Abi Thalib

2
ilustrasi @plus.google

Maksiat dan dosa adalah penyebab utama keburukan. Keduanya merupakan faktor utama yang menjauhkan seseorang dari Allah Ta’ala. Padahal, Allah Ta’ala adalah sumber kebaikan. Maka, siapa yang jauh dari-Nya berarti ia menjauh sejauh-jauhnya dari sumber kebaikan.

Berikut adalah tiga akibat buruk maksiat menurut Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib, sahabat dan menantu Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang yang pertama masuk Islam dari kalangan anak-anak.

Lemah dalam Ibadah

Ibadah adalah tugas utama seorang hamba. Allah Ta’ala menciptakan manusia dan jin hanya untuk beribadah kepada-Nya di sepanjang usianya. Karenanya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam diutus untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada sesama menuju penyembahan kepada Allah Ta’ala semata.

Ibadah adalah bekal. Ibadah adalah bukti keimanan. Ibadah adalah kebutuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Ibadah adalah keuntungan yang tak ada sedikit pun kerugian di dalamnya. Ibadah adalah amal shaleh yang tak terbatas pada ritual semata. Bahkan perbuatan baik kepada sesama manusia adalah jenis ibadah yang pahalanya bisa menyelamatkan seorang hamba.

Maka ibadah hanya bisa dilakukan dengan baik oleh mereka yang jauh dari maksiat dan dosa. Sebab maksiat dan dosa akan menimbulkan noda hitam pada hati, dan menjadi sebab utama kemalasan dan kelemahan dalam beribadah.

Sempitnya Rezeki

Rezeki adalah semua kebaikan yang dikaruniakan oleh Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Ia tak terbatas pada harta, dunia, dan pernak-pernik fana lainnya. Maka sebaik-baik rezeki adalah ketaatan kepada Allah Ta’ala dan kekuatan untuk menjalankan sunnah Rasul-Nya di sepanjang kehidupan.

Para pelaku maksiat akan dijauhkan dan disempitkan dari rezeki. Jika pun mereka bisa mengupayakan dan menghasilkan banyak capaian rezeki berbentuk materi, sejatinya hal itu hanya akan menjauhkan mereka dari Allah Ta’ala, sejauh-jauhnya. Sebab rezeki materi itu digunakan untuk menentang semua aturan-Nya.

Mengurangi Lezatnya Kehidupan

Maknanya adalah nikmat yang Allah Ta’ala berikan. Para pelaku maksiat, bisa jadi memiliki banyak harta dan sekian banyak pencapaian dunia. Tapi semuanya itu tidak dirasakan sebagai kenikmatan. Bahkan, pencapaian-pencapaian itu hanya menimbulkan keserakahan.

Sedangkan orang-orang beriman yang jauh dari maksiat dan senantiasa menyesali dosa yang dilakukan, sekecil apa pun nikmat yang dikurniakan kepadanya akan dirasakan sebagai sebuah karunia besar sebab yang memberikan adalah Allah Ta’ala Yang Mahabesar.

Semoga Allah Ta’ala jauhkan kita dari maksiat dan dosa. Aamiin. [Pirman]

Berita sebelumyaKelebihan Kaum Muslimin atas Bani Israil
Berita berikutnyaRajin Ibadah, tapi Mengapa Hidup Malang dan Penuh Kesulitan?

2 KOMENTAR

  1. Hai, saya sangat senang dengan tulisan-tulisan mas. Namun alangkah baiknya apabila ada dasar dalil hadits dan perawinya atau dalil al-qur’annya. Tulisan anda sudah bagus, tapi akan lebih bagus lagi kalau kedua hal itu ada.

    Kalau anda menceritakan sesuatu yang berasal dari agama islam tentunya harus bersumber pada hadits dan al-qur’an karena kedua sumber inilah yang disebut dan didefinisikan sebagai islam. Perkataan sahabat, selaman tidak ada sumber hadits atau al-qur’annya tidak bisa dibilang sebagai bahagian dari agama islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.