Tidak Seorang Pun Melakukan Ini, Kecuali Dosanya Dihapus

Semoga Allah Ta’ala memberikan kekuatan kepada kita untuk senantiasa menjalankan amalan-amalan ketaatan kepada-Nya dengan senantiasa melakukan sunnah Rasul-Nya yang mulia. Sebab hanya dengan kekuatan dari Allah-lah kita bisa melakukan amalan ketaatan dan menghindari perbuatan dosa serta maksiat.

- Advertisement -

Bagi mereka yang terpilih sebab iman dan takwanya, setiap satuan waktu adalah momentum untuk menambah tabungan pahala dan sarana pengurang dosa. Baik di waktu-waktu khusus dan amalan tertentu sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, maupun di setiap detik yang dijalani dengan senantiasa mengingat nama Allah Ta’ala; memuji dan meminta ampun kepada-Nya.

Yang khusus, di pagi hari misalnya, ia akan senantiasa mengawalinya dengan membaca  istighfar sejak waktu sahur hingga waktu Subuh. Kemudian setiap langkahnya menuju rumah Allah Ta’ala; ada penghapusan dosa dan peninggian derajatnya di sisi-Nya.

Bayangkan, pagi hari sudah dinaikkan derajat dan diampuni dosanya. Andai setiap hari seperti ini di sepanjang kehidupan, betapa banyak dosa yang terampuni dan seberapa tinggi derajatnya di sisi-Nya?

Dengan bekal yang berkualitas di pagi hari itulah, orang-orang mukmin akan menjalani hari dengan kualitas terbaik. Bukan sekadar mengejar dunia yang recehan, tapi juga obsesi akhirat yang meninggi mengangkasa.

Maka setiap jenaknya adalah dzikir, rehatnya shalat, penyegar pikiran dan jiwanya adalah al-Qur’an, kebiasaan dan kesukaanya adalah silaturahim dan mengunjungi orang shaleh, yang tak pernah dilupakannya adalah berbuat baik dengan sesama. Selalu seperti itu setiap hari di sepanjang hidupnya.

Selain waktu-waktu yang ada di sepanjang hari, ada juga waktu khusus baginya. Baik pekanan, bulanan, atau yang hanya setahun satu kali, bahkan ada yang berkala dan hanya dilakukan sekali seumur hidupnya.

- Advertisement -

“Tidak ada seorang pun yang bersuci, membaguskan wudhunya, dan pergi menjalankan shalat Jum’at, kemudian diam hingga imam menyelesaikan shalatnya,” sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dari Salman al-Farisi yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, “niscaya hal itu menjadi penghapus dosa baginya antara hari itu dan Jum’at sesudahnya, selama ia menjauhi dosa-dosa besar.”

Maka momentum Hari Jum’at yang hanya sekali dalam sepekan ini adalah kesempatan langka yang tak layak untuk disia-siakan. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -