Rajin Shalat Tapi Tidak Bahagia? Ini Sebab dan Solusinya

Sebagai salah satu amalan utama dalam Islam, shalat menempati kedudukan yang sangat penting sebagai tiang agama. Perintah untuk mengerjakan shalat disebut berulang lagi, baik secara tunggal maupun digabung dengan perintah ibadah lain. Dengan redaksi ‘dirikan shalat’, seharusnya para pelaku bisa menggapai kebahagiaan sebagai seorang individu ataupun dalam bermasyarakat.

- Advertisement -

Faktanya, banyak yang mendirikan shalat, tapi mereka tidak merasa bahagia. Apa sebabnya? Bagaimana solusi yang hendaknya ditempuh?

Agar shalat berbuah bahagia, para pelaku shalat hendaknya mencukupi hak-hak dalam shalat, baik secara lahir maupun bathin. Secara lahir, gerakan shalat harus dilakukan dengan thumakninah, khusyuk dan memahami setiap kalimat doa yang diucapkan dalam shalat.

Secara bathin, para pelaku shalat harus merasa takut yang dahsyat kepada Allah Ta’ala sebab dia tengah berhadapan langsung dengan-Nya, bercakap-cakap, dan menyampaikan seluruh yang dihajatkannya dalam menggapai bahagia di dunia dan akhirat.

Seorang Muslim juga harus memahami kedudukan shalat. Bahkan, Nabi Ibrahim ‘Alaihis salam memohon kepada Allah Ta’ala agar diri dan keluarganya dijadikan sebagai orang yang mendirikan shalat.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam juga memohon kepada Allah Ta’ala agar menyeru keluarganya untuk mendirikan shalat dan bersabar dalam mendirikannya hingga akhir hayat.

Hanya shalat-shalat seperti inilah yang membuahkan buah dalam kehidupan para pendiri shalat. Ialah mencegah pendiri shalat dari semua jenis perbuatan keji dan mungkar, merasa ringan dalam menjalani seluruh ujian yang berat dalam hidup, memiliki hati yang tenang dan tekad yang kuat.

- Advertisement -

Sebagai puncaknya, shalat yang didirikan merupakan amalan yang mampu melebur dosa dan kesalahan yang dilakukan oleh seorang hamba serta membentenginya dari kecemasan dan kekikiran.

Selain itu, shalat tidak akan membuahkan hasil apa pun. Karena shalat tidak didirikan, tapi dikerjakan sekenanya, sesuka hatinya, jauh dari syarat dan rukun yang digariskan. Inilah shalatnya orang munafiq yang disebutkan oleh Allah Ta’ala dalam surat an-Nisa [4] ayat 142.

“Sesungguhnya orang-orang munafiq itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya’ (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah, kecuali sedikit sekali.”

Mereka berdiri untuk mengerjakan shalat dengan niat pamer dan tidak berdzikir kecuali amat sejenak.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Rujukan: Risalah al-Mustarsyidin, Syarah oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

- Advertisement -

Terbaru

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...

Ciri Orang yang Mendapat Lailatul Qadar

Lailatul qadar memang tidak bisa dipastikan tanggal berapa turunnya. Namun ada tanda-tandanya sebagaimana disebutkan dalam hadits dan dijelaskan para ulama. Lalu bagaimana...