Petuah Bijak Imam Ghazali Tentang Rezeki

Yang pertama kali harus kita lakukan terkait rezeki adalah meyakini keterjaminannya. Selama masih hidup, pasti ada jatahnya. Sebagai konsekuensi positif terkait pasal pertama ini, maka kerja menjadi hal lain. Hanya sarana menyambut. Hanya melakukan perintah Allah Ta’ala. Sama sekali bukan satu-satunya sebab diantarkannya rezeki kepada kita.

- Advertisement -

Bukankah saat masih di kandungan ibu, usia di bawah lima tahun, hingga masa remaja, kita juga tidak mampu bekerja? Akan tetapi, Allah Ta’ala tak pernah membuat kita kelaparan selama itu.

Selanjutnya, bagi mereka yang usianya lanjut dan tak bisa bekerja, sakit menahun hingga tak kuasa mengunyah berbagai jenis makanan, Allah Ta’ala tetap memberikan rezeki kepadanya dengan banyak cara.

Fakta lainnya, ada begitu banyak orang yang terlihat bekerja, tapi rezekinya itu-itu saja. Dibilang gak ada, tapi masih mendapatkan rezeki. Dikatakan mendapat rezeki, tapi jumlahnya tak banyak bahkan terlihat semakin berkurang hingga minus.

Karenanya, pahamilah bahwa bekerja merupakan suatu kewajiban seorang hamba. Jika kita memilih santai di rumah tanpa mengupayakan apa pun dan tak memiliki alasan yang syar’i, maka kita berhak atas dosa sebab Allah Ta’ala perintahkan kepada kita untuk menyambut karunia-Nya dengan bertebaran di muka bumi.

Dalam banyak ayat al-Qur’an juga disebutkan, Allah Ta’ala menjadikan bagi kita siang hari untuk mencari penghidupan. Maka, bergegaslah di pagi hari dengan semangat mengabdi kepada Allah Ta’ala untuk bekerja. Niatkan untuk memakmurkan keluarga, dan menjadi sosok yang kuat dalam memperjuangkan tegak tingginya kalimat Allah Ta’ala di muka bumi ini.

Jangan bermalas-malasan. Dan tidak perlu ragu. Sebab, ketika kita mulai bekerja, akan banyak keajaiban yang Allah Ta’ala berikan.

- Advertisement -

Tak perlu juga bingung mau bekerja apa. Lalu banyak beralasan, “Jika hanya melakukan ini, berapa keuntungannya?”

“Ah, ini mah cuma usaha kacangan. Gak ada duitnya. Gak bakalan kaya. Gak mungkin sukses.” Atau, kalimat-kalimat sesat lainnya.

Simaklah dengan cermat nasihat Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali berikut ini, “Bisa jadi, kalian tidak tahu di mana rezekimu. Tetapi, rezeki mengetahui di mana posisimu. Jika rezeki ada di langit, maka Allah Ta’ala akan memerintahkannya supaya turun kepadamu. Andai rezekimu ada di bumi, Allah Ta’ala akan menyuruhnya agar muncul menemuimu. Dan jika rezekimu ada di lautan, Allah Ta’ala akan perintahkan padanya supaya timbul bersua denganmu.”

Pahami dengan benar. Lakukan apa yang diwajibkan kepada kita. Ikuti dengan sunnah yang utama. Selanjutnya, rasakan sensasi ‘dikejar-kejar’ rezeki. Bismillah… [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...

Ciri Orang yang Mendapat Lailatul Qadar

Lailatul qadar memang tidak bisa dipastikan tanggal berapa turunnya. Namun ada tanda-tandanya sebagaimana disebutkan dalam hadits dan dijelaskan para ulama. Lalu bagaimana...

Tanda-Tanda Lailatul Qadar, Segera Lakukan Ini Jika Mendapatinya

Tak seorang pun di masa sekarang yang bisa memastikan kapan turunnya lailatul qadar. Namun Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan tanda-tanda lailatul...