Penyesalan Sia-sia Sang Kuli Bangunan

Kepada dua kulinya ini, sang majikan memberikan perintah yang sama untuk membangun sebuah rumah. Kedua kuli bangunan ini memang sudah lama bekerja dengan si majikan. Sang majikan pun berlaku adil dengan memberikan upah yang sama kepada keduanya.

- Advertisement -

Kuli pertama mengerjakan perintah sang majikan ini dengan bermalas-malasan. Mulai bekerja saat mentari telah meninggi, lebih banyak istirahat, malas dalam melakukan setiap proses, dan tindakan-tindakan lain sehingga hasil rumah pun sama sekali tak bisa dibanggakan.

Dalam pikiran pendek si kuli pertama, buat apa kerja rajin-rajin jika upahnya segitu-gitu aja? Untuk apa bersungguh-sungguh jika gajinya pun tak kunjung naik. Padahal, terhadap rumah yang diperintahkan kali ini, si majikan memberikan kebebasan untuk menggunakan bahan bangunan dan model rumah yang dikehendaki.

Sedangkan kuli kedua berlaku sebaliknya. Ia berniat mengerjakan proyek itu sebaik mungkin, menggunakan kemampuan terbaik untuk membuat desain rumah, berangkat sepagi mungkin, dan bersemangat dalam setiap proses yang dilakukan dalam pembangunan rumah itu.

Hasilnya pun amat mengagumkan. Bagus, rapi, nyaman, enak ditempati, cerah, dan aneka kebaikan-kebaikan lain yang tersemat dalam karya tangannya itu.

Di akhir proyek, kedua kuli bangunan ini dikumpulkan oleh sang majikan. “Rumah yang barusan kalian kerjakan itu,” kalam sang majikan, “kuniatkan untuk kalian berdua. Masing-masing mendapatkan sesuai dengan pekerjaannya.”

“Setelah ini,” lanjut sang majikan, “silakan istirahat di rumah itu. Sudah waktunya bagi kalian untuk menikmati hari tua. Saya akan mencari pekerja baru.”

- Advertisement -

Sama-sama terkejut, tetapi perasaan kedua kuli bangunan ini amatlah berbeda. Si kuli pertama amat menyesal, tapi apa manfaatnya? Sedangkan kuli kedua sibuk memuji nama Allah Ta’ala seraya mensyukuri nikmat yang diberikan kepadanya melalui sang majikannya itu.

Dikisahkan dari banyak jalur, hendaknya kisah ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Kita adalah hamba Allah Ta’ala yang diberikan sekian banyak kewajiban selama kehidupan ini. Kelak di akhir hayat, kitalah yang akan mengunduh atas setiap jerih payah yang kita kerjakan.

Jika terpaksa dan ala kadarnya, pastilah kita mendapatkan sebagaimana kuli pertama. Sedangkan jika bersungguh-sungguh, bersemangat, dan mengerjakan seluruh perintah dan meninggalkan larangan-Nya dengan penuh kegembiraan, pastilah hasilnya akan sangat menyenangkan. Baik berupa bahagia di dunia dan nikmat surga yang tiada duanya kelak. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -