Penjelasan ‘Ali bin Abi Thalib tentang Mimpi Melihat Rasulullah

Sebagai salah satu peristiwa kehidupan yang dialami oleh hampir semua umat manusia, orang-orang beriman memiliki sikap yang unik terkait mimpi. Mereka tidak pernah melakukan amalan hanya karena mimpi, atau pun meninggalkan perbuatan karena bunga tidur itu. Apalagi setelah kepergian Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mimpi menjadi semakin misterius dan tidak boleh ditafsirkan sesuka nafsu sang pemimpi.

- Advertisement -

Lebih-lebih terhadap mereka yang berimpi melihat Rasulullah. Apakah benar yang dilihatnya adalah Nabi? Bagaimana bisa mengenalinya padahal belum pernah bertemu? Berikut ini kami nukilkan penjelasan ‘Ali bin Thalib tentang orang-orang yang berimpi melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

“Ketika sedang berimpi,” kata sepupu Rasulullah ini, “ruh seseorang naik ke atas langit.” Sebab berada di langit, maka yang dilihatnya di sana (di dalam mimpi) adalah kebenaran. Akan tetapi, lanjut salah satu menantu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ini, “Setan menghadangnya ketika ia dikembalikan ke dalam tubuhnya.”

Ketika dihadang itulah, setan mengubah materi mimpi seorang hamba dengan segala sesuatu yang berbentuk keburukan. “Demikian itu juga terjadi,” lanjut sosok Khalifah penggati ‘Utsman bin ‘Affan ini, “kepada orang-orang yang bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.”

Maknanya, yang dilihat oleh orang beriman ketika melihat Nabi adalah kebenaran. Sebab, setan tak kuasa menyerupai wajah dan postur tubuh beliau yang mulia. Akan tetapi, setan mengubahnya ketika ruh orang yang beriman dikembalikan ke dalam jasadnya.

Menurut anak Abu Thalib ini, “Jika seseorang memiliki iman di dalam hatinya, maka ia akan melihat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (di dalam mimpinya) dalam sosok yang baik.” Begitu juga sebaliknya, “Jika dia merupakan orang yang kafir, maka dia akan melihat beliau (Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di mimpinya dalam sosok yang buruk.”

Dalam riwayat yang Muttafaq ‘Alaih disebutkan bahwa Nabi menjamin kebenaran bagi umatnya yang bermimpi melihat beliau yang mulia. Pasalnya, sebagaimana kami sebutkan di muka, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak bisa diserupai oleh setan yang terlaknat.

- Advertisement -

Akan tetapi, kita harus benar-benar berhati-hati terkait mimpi ini. Apalagi, kita bukan siapa-siapa. Meski tentunya, kita amat berharap agar bisa berjumpa dengan beliau yang mulia di dalam mimpi sebelum perjumpaan dengannya di akhirat kelak dalam tempat dan suasana yang amat menggembirakan. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

Rujukan; Agar Tidak Diperdaya Setan, Syeikh Ibnu Muflih al-Maqdisi.

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -