Orang yang Imannya Lebih Kuat dari Gunung yang Kokoh

Sebagian ketaatan kepada Allah Ta’ala memang bisa dipikirkan dengan logika pendek manusia. Namun sebagian lainnya, sama sekali tidak bisa dipikir dengan logika, dan hanya mampu dicerna dengan logika keimanan atas nama cinta yang tulus dari seorang hamba kepada Zat yang telah menciptakan, merawat, dan mencukupi semua kebutuhan-Nya.

- Advertisement -

Logika-logika iman atas nama cinta kepada Allah Ta’ala inilah yang tidak dimiliki oleh sembarang orang. Bahkan, dari sekian milyar penduduk bumi, hanya beberapa yang benar-benar dikaruniai rezeki yang amat mulia tersebut.

Orang-orang inilah yang telah dan kelak megisi barisan nama pengukir sejarah. Dan memang, apa yang dikerjakannya demi mematuhi perintah Allah Ta’ala, sering kali nampak bertentangan denga logika manusia pada umumnya.

Betapa tidak, Ibrahim ‘Alaihis salam yang sangat merindukan hadirnya sang buah hati, ia berdoa dan mengupayakannya dengan sungguh-sungguh, lalu setelah sang anak lahir; Ibrahim yang terkasih diperintahkan untuk meninggalkannya bersama istri di sebuah lembah yang tak berpenghuni.

Jika bukan karena cinta dan taatnya kepada Allah Ta’ala, apakah motif yang membuat Ibrahim setega itu ‘menelantarkan’ anak dan istrinya?

Kemudian, saat sang anak mulai tumbuh sebagai permata hati melalui perkembangan fisik dan mental yang bagus, tatkala Ibrahim sang ayah teladan datang menjenguk untuk bercanda dan bergaul bersama anaknya sepenuh kasih sayang; ‘tiba-tiba’ turun perintah sangat ‘aneh’ bagi logika manusia mana pun, “Sembelihlah anakmu.”

Duhai, jika bukan karena cinta dan taat, adakah alasan lain bagi Ibrahim untuk melakukan perintah ‘aneh’ ini?

- Advertisement -

Pun dengan ujian yang diberikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya. Apakah ada alasan logis yang membuat Abu Bakar langsung percaya ketika Nabi mengabarkan, “Semalam aku melakukan perjalanan (Isra’) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dilanjut dengan naik (Mi’raj) dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha dan Mustawa”?

Apa yang dialami oleh Abu Bakar hingga dijuluki “ash-Shiddiq” ini adalah salah satu tafsir tentang karakteristik orang-orang yang benar imannya. Bahwa mereka adalah sosok yang sangat taat, pun ketika perintah yang ditujukan kepadanya adalah, “Bunuhlah dirimu sendiri.”

“Dan sesungguhnya jika Kami perintahkan kepada mereka, ‘Bunuhlah dirimu’,” (Qs. An-Nisa’ [4]: 66)

Ketika ayat tersebut turun, salah seorang sahabat berkata, “Seandainya kami diperintahkan (untuk bunuh diri), niscaya kami akan lakukan. Dan segala puji hanya bagi Allah yang memberikan ‘afiat kepada kami.”

Setelah perkataan itu sampai di telinga sang Nabi, beliau bersabda, “Sesungguhnya di antara umatku ada orang-orang yang keimanan dalam hati mereka lebih kuat daripada gunung yang kokoh.” (Hr. Ibnu Abi Hatim). [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -