Agar Menjadi Hamba yang Taat

Sebaik-baik rezeki dan karunia dari Allah Ta’ala adalah sesuatu yang bisa semakin mendekatkan seorang hamba kepada-Nya. Maka bentuknya tidak terbatas pada sesuatu yang disenangi, justru bisa berbentuk hal atau kejadian yang dibenci oleh sang hamba. Dan, Allah Ta’ala Maha Mengetahui mana yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

- Advertisement -

Tatkala sesuatu yang mengantarkan seseorang agar semakin mendekat pada-Nya berupa hal-hal yang disenangi, maka seringkali sang hamba akan lalai sebab kenikmatan tersebut. Apalagi, jika sebelumnya sang hamba hidup dalam kesulitan materi, dan kekurangan penghidupan. Maka karunia kaya dan melimpah kenikmatan dalam banyak bentuknya sering kali melalaikan hingga terjerumus dalam kesalahan yang membinasakan.

Jika demikian, maka jalan yang harus ditempuh oleh sang hamba adalah jalan bernama syukur, agar nikmat yang diberikan oleh-Nya benar-benar bisa dimanfaatkan untuk semakin mendekatkan diri kepada-Nya.

Sedangkan jika seseorang diantarkan untuk mendekat kepada-Nya melalui kemiskinan harta dan kekurangan materi, maka ujian bagi sang hamba adalah kesabaran. Pasalnya, jika sabar telah tercerai dari badan, maka kekurangan-kekurangan penghidupan itu bisa membinasakan dan semakin menjauhkan seorang hamba dari Rabbnya.

Dua bingkai ini, terangkum dalam satu kata bernama taat. Maka dalam banyak ayat al-Qur’an, Allah Ta’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya agar taat kepada-Nya, Rasul-Nya, dan pemimpin-pemimpin kaum muslimin.

Dalam konteks lain yang serupa disebutkan, jika orang-orang beriman mengakui mencintai Allah Ta’ala, maka buktinya adalah dengan mengikuti Nabi-Nya yang mulia. Dan, jika hal itu dilakukan, maka kecintaan Allah Ta’ala dan ampunan-Nya adalah pahala yang dijanjikan-Nya.

Maka jalan ketaatan ini, sejatinya adalah jenis rezeki pula. Jika sarana yang mengantarkan kepada ketaatan saja merupakan rezeki terbaik, pun demikian dengan ketaatan itu sendiri. Sebab memang, bukanlah hal yang mudah untuk menggapai derajat ini.

- Advertisement -

Kuncinya, sebagaimana disebutkan di dalam surat an-Nisa’ [4]: 64, “Dan Kami tidak menurunkan seorang Rasul, melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah Ta’ala.”

Imam Mujahid mengatakan makna ayat ini sebagaimana dikutip Imam Ibnu Katsir dalam Tafsirnya, “Tiada seorang pun yang taat, kecuali dengan izin-Ku. Tiada seorang pun yang menaati Rasul-Nya, kecuali karena Taufik-Ku.”

Oleh karena itu, tak ada jalan lain untuk menjalankan ketaatan selain dengan niat yang benar, kesungguhan yang membaja, dan senantiasa memohon pertolongan kepada Allah Ta’ala, meminta dengan hati yang paling ikhlas; semoga Allah Ta’ala kuatkan, mudahkan, rezekikan kepada kita ketaatan kepada-Nya dalam berbagai kondisi. Aamiin. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -