Orang-orang yang Enggan Masuk Surga

0
ilustrasi enggan @harnas

Suatu hari, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda sebagaimana diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari,  “Semua umatku akan masuk surga, kecuali orang yang enggan.”

Para sahabat pun bertanya kekagetan, “Siapakah yang sebodoh itu hingga enggan masuk ke dalam surga, ya Rasulullah?”

Sebelum melanjutkan penjelasan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits ini, mari sejenak menadabburi kabar yang mustahil salah ini. Beliau yang perkataannya paling baik menyebutkan bahwa ada orang yang tidak mau masuk ke dalam surga.

Lebih menarik lagi, beliau menyebut ‘semua umatku’ yang bermakna luas; siapa pun yang hidup sepeninggal beliau. Apalagi, beliau tidak menyebut kalangan kafirin, musyrikin, atau munafiqin. Karenanya, bisajadi, yang dimaksud dalam hadits ini termasuk juga orang-orang Islam yang memang enggan, tidak mau, bahkan menolak untuk masuk ke dalam surga. Bukankah orang kafir, musyrik, dan munafiq memiliki peluang untuk bertaubat?

“Barang siapa,” jelas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “yang menaatiku, dia akan masuk surga. Dan siapa saja yang mendurhakaiku, sungguh dia telah enggan.”

Beliau yang paling mulia lisannya ini pun menjelaskan. Yang dimaksud enggan masuk surga adalah mereka yang tidak menaati segala perintahnya yang mulia. Maka, selain kafirin, musyrikin, dan munafiqin, bukankah ada pula orang-orang Islam yang menolak sunnah-sunnahnya yang mulia dalam perkataan, perbuatan, dan persetujuan?

Menarik pula untuk dicermati, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengatakan, ‘siapa yang mendurhakaiku, sungguh dia enggan’. Beliau tidak mengatakan, ‘siapa saja yang mendurhakaiku, sungguh ia akan masuk ke neraka.’

Artinya, di sana ada harapan yang dibentangkan. Sebagaimana orang yang enggan melakukan suatu perkara karena ketidaktahuannya, maka dengan belajar dan bergaul dengan orang-orang yang tahu, ia akan mengetahui manfaat suatu perkara sehingga menggandrungi dan melakukannya sebagai sebuah perkara yang disukai.

Sebagai solusinya, maka yang kudu ditempuh adalah taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ialah patuh secara paripurna yang kelak mendapat jaminan dari Allah Ta’ala sebagaimana Firman-Nya di dalam surat Ali ‘Imran [3] ayat 31,

“Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku (Nabi Muhammad). Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Imam as’Sa’di menafsirkan kalimat ‘ikuti aku (Nabi Muhammad)’ dengan mengatakan, “Maka tanda cinta kepada Allah adalah mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam semua kondisi; perbuatan dan ucapannya, dalam pokok dan cabang agama, serta lahir dan batinnya.”

Sungguh, ini bukan perkara yang mudah. Namun, semoga Allah Ta’ala menolong kita. Aamiin. [Pirman/Kisahikmah]

Berita sebelumyaKisah Hakim Pemberani dan Pertaubatan Sultan Bayezid
Berita berikutnyaNestapa Pezina; Adik dan Anaknya Dihamili

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.