Menurut Imam al-Ghazali, Inilah Penyakit yang Tidak Ada Obatnya

Setiap penyakit pasti ada obatnya. Akan tetapi, menurut Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, ada satu penyakit mental yang tidak didapati obatnya. Parahnya, satu penyakit yang tidak ada obatnya ini, saat ini telah mewabah di dalam kehidupan yang kita jalani. Baik di ranah maya, nyata, dan bisa dijumpai di semua lini kehidupan.

- Advertisement -

Di dalam buku Mendaki Tanjakan Ilmu dan Tobat yang merupakan terjemahan dari Minhajul ‘Abidin, Imam al-Ghazali bertutur, “Jangan sekali-kali berbantah-bantahan. Sebab itu semata-mata penyakit yang tidak dijumpai obatnya.” Tegas beliau sampaikan nasihat, “Jauhilah sekuat tenagamu.”

Di ranah maya, misalnya, kita menjumpai perdebatan yang tiada ujung. Baik benar ataupun salah, masing-masing pihak lebih banyak didominasi oleh nafsu semata. Alhasil, yang dicari bukanlah kebenaran, tetapi kemenangan dari perdebatan itu.

“Yang dituju oleh orang yang berbantah-bantahan,” lanjut tabib ruhani ini, “hanyalah kemenangan, bukan kebenaran.” Karenanya, masih-masing pihak akan merasa menjadi yang paling benar dengan mengeluarkan semua dalih, lalu berupaya menutup mata terhadap kebenaran yang disajikan oleh lawan debatnya.

Ujungnya, tiada yang mendapatkan keuntungan. Tutur penulis Ihya’ ‘Ulumuddin ini, “Orang-orang yang gemar berbantah-bantahan tidak akan beruntung.” Hanya kerugian yang akan diunduhnya. Pun, jika ia memenangkan perdebatan itu. “Kecuali,” pungkas beliau menerangkan, “orang itu diliputi rahmat Allah sehingga bertobat dari kegemaran berbantah-bantahan itu.”

“Orang-orang yang pada mulanya benar,” lanjut beliau mengutip sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, “menjadi sesat karena mulai berbantah-bantahan.”

Aduhai celakanya mereka ini. Ada begitu banyak peluang amal, tetapi memilih menjadi pelaku debat yang tidak solutif. Alangkah malangnya mereka. Sibuk dengan kesia-siaan yang berbuntut celaka, padahal banyak sekali kaum Muslimin yang menunggu karya nyatanya.

- Advertisement -

Memang, debat diperintahkan. Tetapi, harus dilakukan dengan ‘ahsan’. Yakni berniat menyampaikan kebaikan, melakukannya dengan akhlak yang santun, lalu tidak berupaya memaksakan hidayah kepada orang lain. Termasuk di dalamnya, mengakui kesalahan jika memang ada pendapat yang lebih benar.

Akan tetapi, jika mau jujur, sejatinya masih banyak ibadah dan amal shalih lain yang bisa dikerjakan, daripada sibuk berbantah-bantahan sementara anak dan istri-istri menunggu dinafkahi. Sepertinya, jika waktu berdebat dialihkan kepada kerja-kerja nyata, amal itu jauh lebih bermanfaat untuk diri, keluarga, dan juga Islam yang mulia. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...

Sejarah Bulan Muharram dan Peristiwa Penting yang Terjadi di Dalamnya

Bulan Muharram (المحرم) adalah bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Bagaimana sejarah bulan muharram dan peristiwa penting apa saja yang terjadi di dalamnya?