Dengan Sikap Ini, Anda Jauh Lebih Bahagia daripada Raja yang Agung

Kepada Muhammad bin Wasi’, seorang laki-laki anonim bertanya, “Berpesanlah untukku.”

- Advertisement -

“Jadilah engkau seperti seorang raja; baik di dunia maupun di akhirat.” jawab Imam Muhammad bin Wasi’ Rahimahullahu Ta’ala.

“Bagaimana caranya?” tanya si laki-laki, kedua kali, dengan nada amat penasaran.

Tutur Imam Wasi’ sampaikan jawaban, “Jadilah engkau orang yang zahid.”

Ketika mengutip kisah ini dalam menjelaskan Risalah al-Mustarsyidin Imam al-Harits al-Muhasibi, Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah mengatakan, “Orang yang raganya paling nyaman adalah orang yang zahid.”

Lanjutnya menerangkan, “Orang zahid adalah pribadi yang hatinya lebih tenang dan lebih bahagia daripada raja mana pun.”

Zahid ialah suatu kondisi ketika seorang hamba mampu meletakkan dunia di tangannya dan tidak pernah sekali pun meletakkannya di hatinya. Di hatinya hanya ada Allah Ta’ala, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, Islam yang mulia, dan jihad di jalan-Nya.

- Advertisement -

Dalam berbagai kondisi, orang yang zahid memang tidak bergelimang harta, meski ia merupakan pribadi yang kaya raya. Hartanya benar-benar menjadi jalan yang sangat efektif dan berdayaguna dalam mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Ia hanya memanfaatkan harta sekadar untuk menegakkan tulangnya demi kuat beribadah kepada Allah Ta’ala dan membagikannya kepada yang berhak, baik berupa nafkah wajib maupun pemberian yang sunnah.

Seorang Khalifah Bani Abbasiyah yang berjuluk al-Mutawakkil pernah didatangi oleh salah satu menterinya. Saat itu, sang Khalifah tengah tertegun. Matanya menerawang. Seakan memikirkan sesuatu yang amat berat.

Sang menteri mengatakan, tak layak bagi sang Khalifah untuk bersikap demikian. Sebab dirinya merupakan orang yang paling bahagia, paling kaya, hidupnya paling nyaman, seluruh kebutuhannya tercukupi hingga berlebihan, dan seterusnya.

Namun, sang Khalifah menyampaikan, ada orang yang jauh lebih bahagia dan nyaman di banding dirinya. Ialah orang yang sama sekali tidak dikenal sehingga tidak mendapat gangguan dari orang lain, tidak pula menggantungkan kebutuhannya kepada orang lain sehingga dia tidak mendapatkan hinaan dari orang tersebut.

Mereka berbahagia dengan istrinya yang shalihah, rumahnya yang luas, dan hidupnya senantiasa dalam kecukupan.

- Advertisement -

Sungguh, zahid erat kaitannya dengan iman yang ada di dalam hati. Ia tidak terkait dengan kepemilikan harta dan banyaknya aset yang kita punyai.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Mengapa Allah Bersumpah dengan Kuda Perang di Surat Al Adiyat?

Di awal Surat Al Adiyat, Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah dengan menyebut kuda perang yang berlari kencang. Rangkaian sumpah ini ada di...

Kisah Pemuda Melamar Calon Istri Kedua dengan Kata-Kata Bilal

Pemuda itu galau. Ia jatuh cinta kepada seorang gadis padahal dirinya sudah menikah. Hari demi hari, dirasakannya cinta makin merasuk ke jiwa....

Boleh Jadi Kamu Membenci Sesuatu, Padahal Ia Amat Baik Bagimu

“Yah, kenapa sih mobil kita kecil? Sudah sesak nih,” kata seorang anak kepada ayahnya saat mereka berlima bepergian menuju sebuah tempat wisata.

Nama Istri-Istri dan Anak-Anak Abu Bakar Ash Shiddiq

Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu memiliki enam orang anak. Seluruhnya menjadi tokoh-tokoh di zamannya, dalam berbagai bidang yang berbeda.