Mengapa Imam Malik Melepas Sandal ketika Masuk Kota Madinah?

Imam Malik bin Anas merupakan salah satu cahaya zaman lantaran kedalaman ilmunya tentang Islam. Sosok penulis kitab monumental al-Muwatha’ ini merupakan salah satu guru Imam asy-Syafi’i. Beliau menjadi satu dari empat imam yang pemikirannya banyak dirujuk oleh kaum Muslimin. Madzhab Maliki pun dinisbatkan kepada beliau.

- Advertisement -

Imam Maliki banyak memberikan nasihat soalan akhlak. Misalnya, beliau pernah mengatakan bahwa adab harus didahulukan dari ilmu. Adab inilah yang membuat seorang murid mudah menerima ilmu dari guru-gurunya. Selain itu, adab membuat orang yang berilmu semakin harum wanginya.

Sebagai bagian dari pengamalan atas nasihtnya itu, Imam Maliki-sebagaimana dikutip oleh Habiburrahman El Shirazy dalam Api Tauhid-senantiasa membuka sandalnya saat memasuki kota Madinah. Ialah kota suci yang dijadikan tujuan hijrah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Para murid dan pengikutnya pun bertanya, “Wahai Imam, apakah yang membuatmu melepas sandal ketika memasuki kota Madinah al-Munawwarah?”

Kepada para penanya, beliau menyampaikan jawaban yang amat santun, “Bagaimana mungkin aku mengenakan sandal saat menjejakkan kaki di bumi yang di dalamnya bersemayam jasad Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam?”

Sebuah ijtihad cerdas atas nama akhlak. Sebuah penghormatan penuh cinta kepada sosok yang amat dicintai. Sebuah perbuatan tak biasa yang memang hanya dilakukan oleh pribadi-pribadi luar biasa. Sebuah teladan bijaksana yang kini semakin redup oleh rusaknya zaman.

Tafsir dari melepas sandal, sejatinya tak hanya dimaknai berupa menanggalkan sandal yang melekat di alas kaki. Memang, sandal langsung bersentuhan dengan tanah ke mana pun seseorang berjalan. Alhasil, bagian bawah sandal selalu kotor dan mungkin terkandung najis. Maka, ianya dilepas sebagai wujud hormat.

- Advertisement -

Persis seperti ketika hendak memasuki masjid. Sandal dilepas sebab kotor. Lalu kita masuk dengan menundukkan diri dengan mengagungkan nama Allah Ta’ala sembari mengakui segala jenis dosa yang pernah kita kerjakan.

Tentang Imam Malik ini, kami jadi teringat pada buah pisang. Ialah salah satu buah yang beliau gemari. Pasalnya, pisang merupakan salah satu buah-buahan surga yang wangi, lembut, dan manis. Dan kesukaan beliau akan pisang pun diteladani oleh segenap kaum Muslimin di belahan Afrika yang menjadi pengikut madzhab Maliki.

Semoga Allah Ta’ala melimpahkan ampunan kepadanya, dan menerima semua amal shalihnya. Aamiin.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...

Ciri Orang yang Mendapat Lailatul Qadar

Lailatul qadar memang tidak bisa dipastikan tanggal berapa turunnya. Namun ada tanda-tandanya sebagaimana disebutkan dalam hadits dan dijelaskan para ulama. Lalu bagaimana...