Masya Allah… Inilah Amalan yang Pahalanya Memilih Bidadari Surga

0
ilustrasi @ustadchandra
ilustrasi @ustadchandra
ilustrasi @ustadchandra

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam pernah berpesan, “Jangan marah.” Beliau mengulang-ulang nasihat tersebut ketika ada sahabat yang bertanya, “Ya Rasulullah, berilah aku nasihat.” Maka pengulangan nasihat tersebut menunjukkan betapa mulia dan agungnya sebuah amalan.

Marah berasal dari setan. Sikap itu merupakan salah satu tanda lemahnya iman seseorang. Setan mudah merasuki seseorang yang lemah imannya, sehingga ia mudah melampiaskan marahnya. Pun, kepada hal-hal kecil ataupun sesuatu yang tak ada hubungan dengan dirinya.

Maka menahan marah bukanlah suatu hal yang mudah. Dibutuhkan kesungguhan dalam mengupayakannya. Apalagi, amalan ini memiliki keutamaan yang agung di sisi Allah Ta’ala sesuai apa yang telah disabdakan oleh Nabi-Nya yang mulia.

Ibnu ‘Umar Radhiyallahu ‘Anhu bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam, “Apa yang dapat menjauhkanku dari kemurkaan Allah ‘Azza wa Jalla?” Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad ini, Rasulullah pun membalas, “Jangan marah.”

Sebuah nasihat yang singkat, padat, jelas dan mengandung kebaikan nan tak terhitung. Bukankah ketika Allah Ta’ala murka, maka dunia ini amat kecil dan bisa dihancurkan-Nya dalam sekejap mata, bahkan lebih cepat dari itu? Bukankah ketika Allah Ta’ala murka, maka amat mudah baginya untuk menurunkan azab kepada siapa yang menentang-Nya?

Hasan al-Bashri mengatakan, “Empat perkara yang jika ada dalam diri seseorang, niscaya Allah Ta’ala akan menyelamatkannya dan mengharamkannya dari neraka.” Empat perkara yang dimaksud adalah, “Mampu menguasai dirinya ketika terdapat keinginan, rasa takut, syahwat, dan marah.”

Menahan marah dalam hadits yang lain juga menjadi salah satu indikator kuat atau tidaknya seseorang. Sebab kuat dalam Islam bukan sekedar berotot atau yang mampu memenangkan gulat, pertandingan fisik, adu jotos, dan sejenisnya. Kuat dalam Islam, salah satunya disandangkan bagi mereka yang mampu menahan amarahnya.

Terkadang, ketika seseorang memiliki kekuasaan untuk melampiaskan kemarahannya, ia akan serta merta melakukannya. Padahal, andai mau berupaya dan benar-benar mampu tuk menahan diri, maka Allah Ta’ala telah menjanjikan pahala yang agung baginya.

“Barang siapa yang sanggup menahan amarahnya,” sabda Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “padahal dia sebenarnya mampu untuk melampiaskannya,” lanjut Rasulullah sebagaimana diriwayatkan pula oleh Imam Abu Dawud, “maka Allah akan menyerunya di hadapan pemimpin para makhluk pada Hari Kiamat kelak.”

Tidak hanya itu, sebagaimana diriwayatkan pula oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Majah ini, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam menegaskan, “Hingga dia memilih bidadari sesuai keinginannya.”

Semoga Allah Ta’ala menjaga kita dari godaan setan yang terkutuk. Aamiin. [Pirman]

Berita sebelumyaJika Saat Ini Detik Terakhir dalam Hidup Kita
Berita berikutnyaTiga Kalimat Pencegah Maksiat