Tidak Ditanyakan di Akhirat, Tapi Banyak yang Mengerjakan Hal Ini

Ada nasihat indah dari Imam al-Ghazali dalam buku Bidayatul Hidayah. Laki-laki yang dinobatkan sebagai imam bagi para sufi dan merupakan salah satu tabib hati kebanggaan kaum Muslimin ini mewanti-wanti kaum Muslimin agar meninggalkan satu perbuatan. Sebab, perbuatan itu tidak akan pernah ditanyakan di akhirat.

- Advertisement -

Mirisnya, meski tidak ditanyakan di Hari Kiamat, banyak umat akhir zaman yang kerap melakukannya. Bahkan ada indikasi di sebuah komunitas yang gemar melakukan larangan ini. Na’udzubillah.

“Jangan sekali-kali engkau mengutuk suatu makhluk Allah Ta’ala, baik kepada binatang, tumbuhan, terlebih kepada sesama manusia. Jangan menghakimi seorang Muslim telah menjadi kafir atau munafik, terlebih dengan berani memberikan kesaksian.” tutur sang imam yang dijuluki Hujjatul Islam ini.

Bukankah kita banyak menjumpai sebagian oknum kaum Muslimin yang berani menuduh kelompok lain sebagai munafiq atau kafir hanya karena beda guru ngaji? Bukankah banyak oknum kaum Muslimin yang berani bersaksi dan menyebarkan kesaksian di media sosial maupun media siar terkait kemunafikan atau kekafiran golongan lainnya padahal sama-sama kaum Muslimin?

Mengapa Imam al-Ghazali melarang tindakan ini? “Sebab,” lanjut beliau, “hanya Allah Ta’ala yang mengenali hal-hal tersembunyi di balik hati seseorang. Oleh karena itu, jangan merasa menjadi pribadi yang lebih tahu dari Allah Ta’ala.”

Selain itu, tindakan mengutuk dan menuduh ini tidak akan ditanyakan di akhirat jika pun kita tidak mengerjakannya.

“Di Hari Kiamat, tidak akan ada yang menuntutmu dengan bertanya, ‘Mengapa engkau tidak mengutuk si Fulan?’ Atau, ‘Kenapa engkau mendiamkan saja si Fulan?’ Bahkan sekalipun engkau tidak pernah mengutuk iblis di sepanjang hidupmu dan lidahmu juga tak pernah menyebut-nyebut kebusukannya, pada Hari Kiamat nanti engkau tidak akan ditanya tentang hal itu, juga tidak akan dituntut atasnya.”

- Advertisement -

Justru ketika kita melaknat, menuduh, atau mengutuk, maka kita akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat. Dan ketika tak kuasa memberikan bukti, sungguh semua tuduhan itu kembali kepada pihak yang menuduh.

Terkait iblis, ia akan tetap seperti itu. Dikutut miliaran kali pun, ia tak akan pernah berubah. Justru kita yang akan lelah karena menyia-nyiakan waktu dan sumber daya.

Wallahu a’lam. [Pirman/Kisahikmah]

*Beli buku BIdayatul Hidayah tulisan Imam al-Ghazali di 085691548528

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...