Lantas, Siapakah yang Menciptakan Allah?

Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari sikap buruk yang ditimbulkan dari orang yang banyak bertanya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sudah jauh-jauh hari mewasiatkan kepada kita tentang bahayanya sikap ini. Pasalnya, sikap inilah yang menjadi penyebab terjerumusnya generasi kafirin terdahulu dalam kebinasaan.

Celakalah kaum mutanathi’un.
Demikian pesan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam kepada sahabat dan umatnya. Siapakah mereka? Yaitu orang-orang mencari-cari sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Mereka juga mencari-cari masalah dengan sedatail-detailnya dalam perbedaan yang jauh dan bercabang-cabang.

- Advertisement -

Senada dengan sabda Nabi, Abdullah bin Mas’ud juga menuturkan nasihatnya, “Waspadalah kalian dengan kaum mutanathi’un. Waspadalah kalian dengan mencari-cari sedatail-detailnya, dan waspadalah kalian dengan sesuatu yang tidak terdapat di zaman Sahabat Radhiyallahu ‘anhum ajma’in.”

Sedihnya, sikap yang menjadi penyakit akut Bani Israel ini banyak diwarisi oleh sebagian kaum muslimin dengan dalih menghindari taqlid buta dan sebagai bentuk ketelitian, bahkan kekritisannya. Alhasil, antara kritis ingin tahu dan memastikan kebenaran amat tipis bedanya dengan bertanya detail yang bermaksud mencari kesalahan ataupun kekeliruan.

Karenanya, kaum muslimin harus kembali manafakuri apa yang telah dicontohkan oleh generasi sahabat yang senantiasa mencukupkan diri dengan apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Sikap itu pula yang membuat mereka senang ketika ada orang badui yang bertanya lugu kepada Nabi, kemudian mereka menyimak jawabannya dengan penuh tunduk.

Seberapakah bahayanya sikap ini?

“Datanglah setan kepada salah seorang di antara kalian,” sabda Rasulullah suatu ketika. Setan itu pun membisikkan sesuatu kepada orang tersebut, “Siapakah yang menciptakan ini? Siapakah yang menciptakan itu?” Sampai seterusnya, hingga setan membisikkan kepada orang tersebut untuk bertanya, “Lantas, siapakah yang menciptakan Allah?”

Terang Rasulullah dalam riwayat Imam Bukhari ini, “Maka apabila sampai pada pertanyaan ini, hendaklah dia berlindung kepada Allah Ta’ala dan berpaling dari memikirkannya.”

- Advertisement -

Dalam riwayat Imam Muslim, ketika ada orang yang menyampaikan pertanyaan konyol itu, “Hendaknya ia mengatakan, ‘Saya beriman kepada Allah.’”

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita dari buruknya sikap ini. Sikap banyak bertanya dengan niat mempertentangkan atau meragukan sebuah ajaran yang disampaikan oleh Allah Ta’ala dalam Kitab-Nya, maupun nasihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sabdanya nan mulia. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -