Kisah Pemuda Melamar Calon Istri Kedua dengan Kata-Kata Bilal

Pemuda itu galau. Ia jatuh cinta kepada seorang gadis padahal dirinya sudah menikah. Hari demi hari, dirasakannya cinta makin merasuk ke jiwa. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, terbayang-bayang wajahnya.

- Advertisement -

Di saat seperti itu, ia mendengar kisah tentang Bilal yang melamar dengan cara unik. Seakan tak peduli diterima atau ditolak. Yang penting sudah ikhtiar.

Dikisahkan oleh ustadznya, ketika mencintai seorang shahabiyah, Bilal langsung datang ke rumahnya. Menemui orang tuanya. Melamar dengan dengan penuh keberanian dan percaya diri.

“Pak, saya Bilal sahabat Rasulullah. Maksud kedatangan saya ke sini, saya ingin melamar putri Bapak. Jika diterima, alhamdulillah. Jika tidak, Allahu akbar!”

Mendengar kisah tersebut, pemuda itu terhenyak. “Mungkin ini jawaban atas shalat istikharah yang telah kulakukan. Di saat aku bingung harus bagaimana, kisah Bilal tiba-tiba tersampaikan padaku. Mungkin aku harus melakukan seperti Bilal.”

Selang sehari kemudian, ia pergi ke rumah gadis itu. Dipacunya motor bebek berwarna hitam itu ke ujung utara Jawa Timur. Sesampainya di sana, ia langsung mengetuk pintu.

“Assalamu’alaikum…”

- Advertisement -

“Wa’alaikum salam. Silakan masuk, Nak.” Seorang laki-laki paruh baya membukakan pintu. Ia masih mengenali pemuda itu. Teman sekolah anaknya.

Inggih Pak. Saya langsung saja,” kata pemuda itu setelah duduk di ruang tamu. “Maksud saya kemari mau melamar putri Panjenengan. Jika diterima, alhamdulillah. Jika tidak, Allaahu akbar!

Baca juga: Keajaiban Istighfar

Beberapa detik kemudian, ruangan itu hening. Sang Bapak menampakkan wajah kaget mendengar ucapan pemuda di depannya. Mungkin ia berpikir, kok ya ada orang melamar sendirian begini. Tanpa basa-basi. Sudah menikah, lagi.

“Maaf ya Nak, Bapak tidak bisa menerima lamaran sampean,” jawabnya sambil mengatur nada agar tak menyinggung.

- Advertisement -

“Inggih sampun Pak, menawi ngoten kulo nyuwun pamit.” (Ya sudah Pak, kalau begitu saya mohon pamit)

Beberapa hari kemudian, pemuda itu menceritakan peristiwa tersebut kepada ustadznya. Antara terkejut dan ingin tertawa bercampur dalam diri ustadz saat mendengarnya.

Baca juga: Niat Puasa Arafah

“Ya Salam.. saya menceritakan kisah itu terutama untuk teman-temanmu yang belum menikah. Agar mereka berani melangkah. Berani mengambil resiko dan percaya diri.”

“Nggak apa-apa, Ustadz. Yang penting sekarang saya sudah plong. Meskipun ditolak.” Sang ustadz tersenyum. Alhamdulillah.. [Muchlisin BK ~ Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Inilah Ayat yang Membuat Umar Masuk Islam

Kemarahan Umar bin Khattab memuncak. Ia merasa agama baru telah membuat ajaran nenek moyangnya terinjak-injak. Maka ia ambil pedang, lalu pergi untuk mengakhiri apa...

Jenazah Utuh Thalhah bin Ubaidillah Saat Makamnya Dipindah

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu gugur sebagai syahid pada Perang Jamal. 30 tahun kemudian, saat kaum muslimin memindahkan makamnya, mereka menyaksikan sebuah keajaiban. Jenazah...

Kisah Umar Marah kepada Abu Bakar Melebihi Marahnya kepada Utsman

Umar bin Khattab pernah marah kepada beberapa sahabat, terutama Abu Bakar Ash Shiddiq. Saat itu Umar sedang berduka karena menantunya meninggal dunia sehingga putrinya...

Penasaran Hadits Ini, Istri-Istri Nabi Mengukur Panjang Tangannya

Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai beliau. Tak hanya ingin menemani beliau di dunia, para ummul mukminin juga ingin segera menyusul Rasulullah...