Kalimat yang Paling Baik, Disukai dan Diridhai Allah untuk Diri-Nya

Mahasuci Allah Ta’ala, tiada pengetahuan kami selain yang Dia ajarkan. Sesungguhnya Allah Ta’ala Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana. Dia Maha Mengetahui yang Ghaib, yang sudah, sedang dan akan terjadi. Dialah satu-satunya Zat yang berhak atas semua pujian.

- Advertisement -

Sebaik-baik kalimat adalah pujian kepada Alah Ta’ala. Sebagaimana para malaikat yang senantiasa diilhami untuk bertasbih seraya memuji dan mensucikan nama Allah Ta’ala. Maka siapa pun hamba beriman yang senantiasa memuji dan mensucikan nama Allah Ta’ala, baginya kemuliaan melebihi para malaikat.

Sebab, dalam memuji dan mengagungkan nama-Nya, diperlukan upaya yang sungguh-sungguh dari seorang hamba. Apalagi, setan senantiasa menggoda manusia agar lalai dan lengah dari segala jenis ibadah; termasuk dzikir. Sehingga, saat seseorang baru berniat untuk berdzikir, setan mulai melancarkan godaan agar manusia lalai, bahkan urung memuji nama-Nya yang Mahasuci.

Disebutkan dalam Shahih-nya, Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Dzar al-Ghifari. Bertanyalah seorang sahabat kepada Nabi, “Ucapan apa yang paling baik?” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pun menjawab, “Ialah kalimat yang dipilih oleh Allah Ta’ala bagi para malaikat-Nya.”

Apakah kalimat terbaik yang diplih oleh Allah Ta’ala bagi malaikat-Nya tersebut?

Lanjut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menerangkan, “Subhanallahi wa bihamdihi; Mahasuci Allah, segala puji bagi-Nya.”

Itulah kalimat pujian yang senantiasa diulang-ulang oleh malaikat-Nya dan hamba-hamba-Nya yang shaleh. Kalimat pujian untuk Zat yang Maha Terpuji; kalimat pujian untuk Zat yang Mahasuci.

- Advertisement -

Suatu hari, Umar bin Khaththab bersama Ali bin Abi Thalib dan sahabatnya yang lain. Kata Umar, “Kami telah mengetahui kalimat Laa ilaha illallah (Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah).” Lanjut umar, “Lalu, apa itu Subhanallah (Mahasuci Allah)?”

Maka Ali bin Abi Thalib pun menjawab, “Itulah kalimat yang disukai dan diridhai Allah untuk diri-Nya sendiri.” Lanjutnya menerangkan, “Dia menyukai jika kalimat itu diucapkan (oleh hamba-Nya untuk-Nya).”

Demikianlah kalimat paling baik, yang disukai, dan diridhai Allah Ta’ala untuk diri-Nya. Ialah sebentuk pujian tulus dari seorang hamba yang lemah kepada Allah Ta’ala yang Mahakuasa.

Semoga Allah Ta’ala kurniakan kepada diri agar senantiasa menjadikan kalimat pujian ini sebagai dzikir di pagi, siang, sore, malam dan sepanjang hari dalam kehidupan kita. Aamiin.[Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -