Kalimat yang Lebih Berat dari Tujuh Lapis Bumi dan Langit Seisinya

ilustrasi @sadeanku
ilustrasi @sadeanku

- Advertisement -

Salah satu jalan yang harus ditempuh oleh seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala adalah dengan senantiasa mengingat-Nya, dzikrullah. Dzikir adalah ibadah unggulan yang tak terbatas ruang maupun kondisi. Ia bisa dilakukan kapan saja, dalam setiap situasi.

Dzikir bisa dilakukan dengan dua cara. Secara keras (jahr) dan perlahan (sirr). Keduanya memiliki keutamaan dan penerapannya masing-masing. Dzikir jahr bisa dilakukan di waktu tertentu, saat senggang, di masjid-masjid maupun majlis ilmu atau rumah-rumah kaum muslimin. Sementara dzikir sirr, bisa tetap dikerjakan ketika seseorang tengah bekerja, dalam perjalanan, sambil belajar maupun aktivitas kebaikan lainnya.

Allah Ta’ala amat menganjurkan dzikir; menyebut, mengagungkan, dan mensucikan nama-nama-Nya yang agung. Melalui lisan Nabi-Nya, Dia juga mengajarkan kalimat-kalimat dzikir yang padat nan ringkas, namun memilik keutamaan yang amat besar dan mulia. Mahasuci Allah Ta’ala.

Nabi Musa ‘Alahis salam berkata kepada Rabbnya, “Ya Allah, ajarkanlah kepadaku tentang sesuatu untuk berdzikir kepada-Mu?” Allah Ta’ala pun menjawab, “Ucapkanlah Laa ilaha illallah.

Dalam riwayat yang disampaikan oleh Imam an-Nasa’i ini, Nabi Musa As memohon kepada Allah Ta’ala selepas mendapatkan ajaran tentang kalimat dzikir yang mulia itu. Pinta Nabi Musa As, “Ya Allah, setiap kali mengucapkan dzikir ini, berikanlah aku pahala yang istimewa.”

Maka Allah Ta’ala mengatakan dalam firman-Nya sebagaimana disebutkan dalam hadits Qudsi dari Abu Sa’id al-Khudri ini, “Wahai Musa, seandainya tujuh lapis bumi beserta isinya digabungkan dengan tujuh lapis langit dengan seluruh semestanya dan diletakkan di sebelah timbangan kalimat Laa ilaha illallah, niscaya kalimat itu lebih berat, melebihi semua itu.”

- Advertisement -

Itulah kalimat thayyibah yang memiliki keutamaan tak terbanding. Kalimat yang disebutkan dalam hadits lain, jika diucapkan dengan ikhlas, kemudian pelakunya mati, maka ia berhak atas surga-Nya Allah Ta’ala.

Dalam riwayat lainnya oleh Imam Thabrani dan Baihaqi disebutkan kisah tentang sesosok jasad. Malaikat memeriksa seluruh anggota tubuh jasad itu, tetapi tak ditemukan satu pun kebajikan di dalamnya. Maka sang malaikat melanjutkan pemeriksaan ke dalam hatinya, hasilnya sama: tak terdapat kebajikan di dalamnya. Kemudian malaikat memeriksa mulutnya. Di rongga mulut terdapatlah lidah yang menempel ke langit-langit mulut dalam keadaan mengucap Laa ilaha illallah. Maka disebutkan, “Diampuni segala dosanya karena adanya kalimat yang ikhlas itu.” [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...