Inilah yang Terjadi ketika Ahli Ibadah dan Orang Saleh Wafat

Orang-orang saleh dan ahli ibadah adalah permata bagi zaman. Bahkan, salah satu tanda dicabutnya ilmu adalah diwafatkannya para ulama yang saleh dan ahli ibadah itu. Berikut ini yang kelak terjadi jika seorang ahli ibadah wafat.

- Advertisement -

Fisiknya terbujur di pembaringan. Lemah. Tapi sorot matanya masih menyala. Senantiasa menginspirasi. Di sekelilingnya, duduklah ayah, ibu, istri, dan anaknya. Lepas disapu pandang satu demi satu, terlihatlah olehnya sosok ayahnya. Sedang menangis.

Maka, pintanya kepada yang hadir, “Tolong, bantu aku untuk duduk.” Kemudian, ia bertanya dengan nada lemah, namun memiliki daya ruhani yang kuat, “Apa yang membuat Ayah menangis?”

“Nak,” jawab sang ayah, “aku membayangkan, jika kau meninggal dunia, aku akan sangat merasa kesepian sebab kehilangan dirimu.” Itulah sebab tangisan sang ayah; sepi sebab kehilangan sang anak yang menjadi buah hatinya.

Setelah itu, sosok saleh ini pun menyampaikan tanya serupa kepada ibunya. Jawab sang ibu, “Aku merasakan, betapa pedihnya perpisahan denganmu, Anakku.” Pedih. Itulah yang menggambarkan perasaan ibu ketika kehilangan buah cintanya.

Kemudian, saat pertanyaan yang sama disampaikan kepada istri sang saleh yang sudah dekat dengan ajalnya itu, sang istri menyampaikan alasan tangisnya, “Aku akan kehilangan kebaikanmu selama ini. Lantas, dari manakah aku bisa mendapatkan ganti kebaikan darimu, wahai Suamiku yang saleh?”

Terakhir, tanya serupa pun ditujukan kepada anak-anaknya yang tengah menangis di sampingnya. “Nak,” tanya lelaki ahli ibadah itu, “mengapa kalian menangis?”

- Advertisement -

“Sebab,” jawab mereka lugu, “kehinaan yang akan kami alami setelah Ayah pergi. Kami akan menjadi yatim.”

Tunai mendengar jawaban ayah, ibu, istri, dan anak-anaknya, lelaki saleh yang terbujur di atas tempat tidur ini pun menangis. Keras. Tersedu-sedu. Pilu. Sedih yang mendominasi. Sehingga, mereka yang tadi ditanya, kini balik bertanya serupa, “Mengapa kau menangis, anakku, suamiku, dan ayahku?”

“Aku sedih. Sebab, kalian menangisi diri kalian sendiri, bukan menangisi kepergian dan kepedihan yang pasti kualami setelah mati. Tidak ada yang menangisi betapa panjangnya perjalanan yang harus kulalui, sedikitnya bekal yang kukumpulkan, ketika aku harus ditimbun oleh tanah, terhadap kepastian balasan atas keburukan yang kulakukan.”

“Dan,” pungkasnya, “tidak ada di antara kalian yang menangisi bagaimana kelak ketika aku berdiri di hadapan Rabbku untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan yang kulakukan.”

Rabbi, barangkali kita cukup bertanya, “Jika orang saleh itu ditangisi, pantaskah kita mendapatkan tangis serupa dari orang-orang yang kehilangan kebaikannya?” Jangan-jangan, orang-orang justru berbahagia dalam tawa sebab kepergian kita. Na’udzubillahi min dzalik. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...