Inilah Julukan yang Paling Hina di Sisi Allah

Dalam pergaulan keseharian, ada kebiasaan menggunakan julukan dalam memanggil sesama. Di Jawa, julukan untuk orang lain disebut ‘telahan’. Sedangkan di Arab, ada yang namanya laqob dan kunyah. Biasanya, menjuluki sesama memiliki sejarah; entah itu baik maupun buruk.

- Advertisement -

Ternyata, Islam yang amat mulia pun mengatur hal ini dengan sangat baik. Nabi Shallallahu ‘alahi wa Sallam dalam banyak riwayat mengingatkan umatnya akan pentingnya hal ini. Karena, nama dalam Islam memiliki kedudukan yang besar, lebih dari sekadar sebutan semata, namun terdapat doa di dalamnya.

Penulis pun teringat dengan ceramah KH Ma’ruf Islamuddin Sragen puluhan tahun silam. Beliau menyampaikan nasihat agar kaum muslimin tidak ‘sok-sokan’ dalam memberi nama. Beliau mencontohkan kebiasaan masyarakat yang sering menggunakan istilah luar (Arab maupun Inggris), namun tak paham maksudnya.

Misalnya, beliau menyebutkan, “Jangan hanya karena berbahasa Arab dan terdengar keren, maka orang tua memberi nama anaknya dengan ‘Ibnusy Syaithan’.” Diiringi canda, Kiyai yang juga piawai bershalawat itu menerangkan, “Jika besar, bisa jadi anak tersebut suka membakar rumah tetangga.”

Itulah di antara nama yang dilarang. Maka dalam sebuah kisah kita mendapati Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan orang yang datang kepadanya untuk mengganti nama, sebab maknanya buruk. Kemudian beliau juga menyebutkan, di antara bentuk kedurhakaan orang tua kepada anak adalah memberikan nama yang maknanya tidak baik.

Disebutkan dalam Shahih Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah menyampaikan salah satu jenis julukan yang paling hina. Secara marfu’, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda, “Julukan yang paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang menjuluki dirinya dengan Malikul Amlak (Raja-diraja).” Sebab, “Tidak ada raja yang sebenarnya kecuali Allah Ta’ala.”

Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari buruknya sifat ini. Sebuah kesombongan yang mulanya ketidaktahuan atau disengaja. Orang yang sombong, merasa bisa, dan menganggap dirinya sebagai Tuhan, kelak akan memperoleh siksa di dunia dan akhirat sebagaimana dialami oleh Fir’aun.

- Advertisement -

Sosok yang mengatakan dirinya sebagai Tuhan, kemudian merasa bisa menghidupkan dengan membiarkan hidup siapa yang taat kepadanya, dan mematikan dengan membunuh siapa yang menentang aturan-Nya. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...