Gaji Besar Tapi Keluarga Berantakan? Inilah Solusinya

Seorang laki-laki, sebagaimana dikisahkan oleh Salim A. Fillah dalam salah satu ceramahnya, mendatangi Imam asy-Syafi’i. Ia hendak meminta saran atas persoalan hidup yang dialaminya. Gajinya besar, tapi keluarganya berantakan. Hidup serasa tercekik, anak-anak durhaka, istri pun sering membangkang.

- Advertisement -

Anehnya, Imam asy-Syafi’i justru memberikan saran kepada laki-laki itu untuk meminta penurunan gaji kepada majikannya. Kira-kira, apakah yang akan dilakukan oleh lelaki ini?

Selepas mendengarkan saran dari imam kharismatik yang amat dikaguminya, lelaki ini mengalami kebingungan. Perasaannya semakin galau. Dalam logikanya, “Gaji besar saja, rumah berantakan, anak dan istri bermasalah. Bagaimana jika gaji dikurangi?”

Di sudut hati yang lain, ia tak mungkin menolak saran Imam asy-Syafi’i. Selain sebagai ulama panutannya, sosok yang dimintai saran adalah ulama yang diakui kesalehan dan kefaqihannya terkait persoalan agama dan kehidupan umat manusia.

Berharap berkah sebab menaati saran sang imam, lelaki ini pun memberanikan diri meminta pengurangan gaji. Mulanya, gaji lelaki ini sebanyak lima dirham perhari atau setara dengan 600.000 rupiah perhari. Oleh Imam asy-Syafi’i, dia diminta mengajukan penurunan gaji menjadi empat dirham perhari.

Lepas ajukan usul ke majikannya, gaji lelaki ini pun diturunkan menjadi empat dirham perhari. Waktu berjalan, tapi masalah tak kunjung berubah. Alhasil, dia pun semakin galau. Karenanya, ia kembali mendatangi kediaman imam asy-Syafi’i untuk kembali meminta saran.

Selepas mendengarkan keluhan sang lelaki, sosok faqih yang terkenal dengan ‘Penolong Sunnah’ ini kembali memberikan saran yang agak aneh. Katanya, “Mintalah kepada tuanmu agar menurunkan gajimu menjadi tiga dirham perhari.”

- Advertisement -

Untuk kedua kalinya, lelaki ini pun alami galau. Namun, seperti langkah nekatnya yang pertama, ia kembali mengajukan penurunan gaji kepada majikannya. Sang majikan pun menyetujui pengajuan salah satu anak buahnya itu.

Qadarullah, setelah gajinya menjadi tiga dirham perhari, kehidupan si lelaki ini berangsur membaik. Hatinya tenang, damai, dan tentram. Anak-anaknya menjadi penurut, istrinya pun semakin taat dan patuh dengan perintahnya.

Merasakan itu, ia pun bergegas mendatangi Imam asy-Syafi’i untuk ucapkan terima kasih atas saran yang telah diberikan.

Sahabat, capaian materi dan gaji yang tinggi adalah hal yang berbeda dengan ketenangan rumah tangga juga kehidupan seseorang. Sebab, banyaknya penghasilan tidak menjamin kadar kehalalan dan keberkahannya.

Dalam kisah yang dialami oleh lelaki ini, rupanya jumlah penghasilan yang didapatkan tak sebanding dengan tingkat kesulitan yang dialaminya dalam pekerjaan. Sehari-hari, pekerjaan laki-laki itu hanya menunggui kuda, sementara gajinya setara dengan 600.000 rupiah perhari.

- Advertisement -

Tapi, jika saat ini gaji Anda lebih dari gaji si lelaki penunggu kuda, jangan serta merta meminta pengurangan gaji. Sebab, saran imam asy-Syafi’i ini hanya berlaku untuk lelaki itu. Bagi Anda, barangkali ada banyak hal lain yang harus dipertimbangkan. 😀 [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Kisah di Balik Lahirnya Buku Cinta Sehidup Sesurga

Cinta Sehidup Sesurga adalah sebuah buku inspirasi merawat cinta. Banyak kiat-kiat di dalamnya yang jika dipraktikkan dalam pernikahan, insya Allah suami istri...

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...