Setelah Membunuh Lantaran Tertolak Lamarannya, Lelaki Ini Datangi ‘Abdullah bin ‘Abbas

Pemuda ini jatuh cinta. Hatinya tertambat pada seorang gadis pujaannya. Semua serasa bunga, indah, wangi, penuh pesona. Wajahnya merona bahagia, pikirannya asyik dengan bayangan sumringah, gerak langkah badannya penuh gairah, bersemagat melebihi biasanya.

- Advertisement -

Guna resmi-sempurnakan cinta itu, ia pun mendatangi gadis pujaannya itu. Melamar. Harapannya meninggi langit, mendalam samudra; cintanya akan diterima. Berbalas sempurna. Lalu, keduanya menikah dengan penuh kebahagiaan bak raja dan permaisurinya.

Sayangnya, harapannya kabur bak fatamorgana. Seperti mimpi di siang bolong, wanita itu menolak lamarannya. Cintanya kandas bak kapal yang karam diempas badai di tengah lautan lepas yang amat luas.

Derita itu semakin menyakitkan. Bagai jatuh tertimpa langit tujuh lapis saat wanita itu menerima lamaran lelaki lain. Terbakar emosi, jiwanya menganga. Panas membara. Sebab cemburu, lelaki itu pun membunuhnya.

Tunai lakukan aksi bejat yang merupakan bisikan iblis terlaknat, ia menyesal. Hendak bertaubat, sesali dosa yang terlanjur menjadi bubur. Maka, lelaki ini pun mendatangi ‘Abdullah bin ‘Abbas. Seorang sahabat Nabi yang terkenal ‘alim dan faqih. Ia hendak mengadukan kejadian yang dialami dan niatnya untuk menebus salah dengan bertaubat.

“Apakah kamu masih memiliki ibu?” tanya ‘Abdullah bin ‘Abbas setelah mendengar penuturan lelaki itu.

“Tidak,” jawabnya singkat.

- Advertisement -

“Jika demikian,” tutur ‘Abdullah bin ‘Abbas sampaikan nasihat, “bertaubatlah kepada Allah Ta’ala, dan dekatkan dirimu kepada-Nya sebisa mungkin.”

Mengetahui kejadian itu, Atha’ bin Yasar pun mendatangi ‘Abdullah bin ‘Abbas. Tanyanya, “Mengapa engkau bertanya kepadanya terkait ibunya?”

“Sesungguhnya,” jelas ‘Abdullah bin ‘Abbas, “aku tidak tahu perbuatan yang paling dekat kepada Allah Ta’ala selain birrul walidain.”

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad ini menunjukkan betapa mulianya berbakti kepada ibu dan ayah. Berbakti kepada keduanya merupakan amal saleh yang setingkat di bawah penyembahan kepada-Nya. Dalam riwayat yang lain juga disebutkan bahwa berbakti kepada orang tua berada di antara dua amalan utama; menyembah Allah Ta’ala dan jihad di jalan-Nya.

Sebaliknya, durhaka kepada orang tua diposisikan setingkat di bawah syirik. Sebuah dosa besar yang siksanya disegerakan di dunia sebelum azab abadi di akhirat kelak.

- Advertisement -

Rabbighfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraan. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Mengapa Jin Tak Berani Mengganggu Orang yang Membaca Ayat Kursi?

Mengapa jin tak berani mengganggu orang yang membaca ayat kursi? Berikut ini penjelasan ilmiah dan logisnya. Jin Sendiri Mengaku...

Rasulullah Tak Mengerjakan, Mengapa Puasa Tasua Jadi Sunnah?

Dua di antara amalan bulan Muharram adalah puasa tasua dan puasa asyura. Rasulullah biasa mengerjakan puasa asyura bahkan sangat mengutamakan. Namun puasa...

Kisah Ghibah di Zaman Nabi, Ketika Benar Tercium Bau Bangkai

Saat membaca Surat Al Hujurat ayat 12, kita memahami bahwa ghibah itu ibarat memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Namun tahukah...

Sejarah Bulan Muharram dan Peristiwa Penting yang Terjadi di Dalamnya

Bulan Muharram (المحرم) adalah bulan pertama dalam penanggalan hijriyah. Bagaimana sejarah bulan muharram dan peristiwa penting apa saja yang terjadi di dalamnya?