Empat Tingkatan Dzikir Menurut Imam al-Ghazali

Jika ikan diibaratkan sebagai manusia, maka dzikir adalah airnya. Tanpa dzikir, manusia tak akan bisa hidup dengan baik, bahkan mati. Persis seperti matinya ikan jika tidak berada di dalam habitat air. Maka, kebutuhan manusia terhadap dzikir, sejatinya jauh lebih agung dari kebutuhan manusia kepada makan dan minum yang batas dominannya hanya kebutuhan fisik. Sayangnya, banyak yang lalai dan tak menyadari hal ini dengan baik.

- Advertisement -

Imam al-Ghazali sang Hujjatul Islam yang menulis Ihya’ ‘Ulumuddin nan monumental itu, membagi dzikir menjadi empat tingkatan. Masing-masing tingkatan memiliki ciri khas dan dihuni oleh orang dengan kualitas dzikir yang berbeda.

Tingkatan Shiddiqin

Mereka adalah kaum beriman yang tenggelam dalam ingatannya kepada Allah Ta’ala. Yang ada di pikiran dan hatinya hanyalah Allah Ta’ala. Maka, ia bebas dari jeratan dunia, nafsu, dan syahwat yang membinasakan. Mereka hanya membutuhkan dunia untuk sesuatu yang benar-benar darurat dan sesuai kebutuhannya, tidak berlebih-lebihan.

“Tidak akan sampai pada tingkatan ini,” tutur Imam al-Ghazali, “kecuali setelah seseorang menempuh riyadhah dan kesabaran dalam menjauhi hawa nafsu dalam waktu yang teramat lama.”

Tingkatan Haalikin

Mereka adalah orang-orang yang binasa. Mereka ditenggelamkan oleh kebutuhan dan segala hal terkait duniawi. Yang ada dipikirannya adalah dunia, harta, tahta, wanita, dan perhiasan nan melenakkan lainnya.

Alhasil, “Tak ada lagi kesempatan mengingat Allah Ta’ala, kecuali bisikan yang melintas di pikirannya.” Jika pun mereka melakukan dzikir dengan lisan, lanjut Imam al-Ghazali, “Ianya tidak dihayati oleh hati.”

Cenderung pada Agama

Kelompok ini memiliki kecenderungan yang sama; antara ingat kepada dunia dan akhirat (terkait agama). Hanya saja, ingatan mereka kepada agama lebih sering mendominasi. Dan karenanya, porsi dunia pun lebih sedikit, tetapi tetap ada.

- Advertisement -

Kelak, menurut Imam al-Ghazali, “Mereka akan diselamatkan, tetapi tergantung pada seberapa besar dan seringnya mereka dalam mengingat Allah Ta’ala.”

Cenderung pada Dunia

Inilah kebalikan dari golongan ketiga. Mereka memikirkan dunia dan agama. Tetapi dunia lebih memenuhi pikiran dan hatinya. Alhasil, dzikir kepada Allah Ta’ala pun tersingkirkan. Meski tidak hilang seutuhnya.

Sebab itulah, “Mereka akan tinggal di dalam neraka dalam waktu yang sangat lama.” Meskipun kelak, entah kapan, akan dikeluarkan dari neraka karena mereka masih mengingat Allah Ta’ala dalam beberapa masa hidupnya.

Tentu, kita berharap agar Allah Ta’ala kurniakan kekuatan sehingga kita layak menghuni tingkatan shiddiqin. Meski, kita memahami bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang mudah digapai. Allah… Allah… Allah… [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -