Dua Tanda Matinya Hati

Orang-orang yang selamat adalah mereka yang beriman dan menghadap kepada Allah Ta’ala dengan hati nan selamat. Hati yang senantiasa terpaut kepada Allah Ta’ala. Ialah pribadi yang bicaranya tasbih, diamnya berpikir, langkahnya jihad, dan keseluruhan waktunya dimanfaatkan dalam rangka melakukan amal saleh.

- Advertisement -

Waktu mereka efektif, kehidupannya sempurna. Tak ada cacat sebab yang mendominasi adalah kebaikan. Karenanya, mereka hidup di dunia dengan bahagia dan kelak menghadap Allah Ta’ala dengan sumringah. Tempatnya surga yang penuh dengan kenikmatan di dalamnya.

Berlawanan dengan mereka, ada sosok yang hatinya mati. Gelap. Gulita. Tanpa cahaya. Tak ada kehidupan. Jika pun terlihat bernafas, sejatinya mereka mati. Bahkan, mereka dianggap tidak ada meski jasadnya masih berkeliaran di muka bumi.

Jangan sampai kita menjadi bagian dari mereka yang mati hatinya. Karenanya, kenalilah cirinya dengan baik. Ibnu Athailah as-Sakandari memberitahukan kepada kita tentang dua ciri matinya hati seseorang.

“Di antara ciri matinya hati,” katanya dalam al-Hikam, “adalah tak adanya perasaan sedih bila terlewatkan kesempatan beramal.” Itulah ciri yang pertama. Sedangkan yang kedua, “Dan tidak adanya penyesalan atas bermacam pelanggaran yang telah engkau lakukan.”

Bahwa di dalam keseluruhan hidup ini terdapat banyak sekali perintah yang harus dikerjakan sebaik mungkin dan larangan-larangan yang wajib dijauhi sejauh-jauhnya. Dari kedua hal ini terlihatlah secara jelas tentang kualitas seorang hamba Allah Ta’ala.

Kesempatan beramal amatlah banyak. Shalat lima waktu setiap hari adalah contoh yang paling mudah. Di dalamnya ada keutamaan berjamaah awal waktu di masjid, mendatangi masjid dalam keadaan berwudhu, menambahinya dengan rawatib yang mu’akkad, menunggu waktu shalat setelah mendirikan shalat, mengisi waktu antara adzan dan iqamah dengan dzikir dan membaca al-Qur’an, dan amalan-amalan sunnah lainnya.

- Advertisement -

Pertanyaannya, adakah kita merasa sedih saat urung mendirikannya tanpa alasan yang dibenarkan syariat? Apakah ada gulana sebab terlewat dari shalat jamaah? Adakah sedih nan mendominasi saat tidak hadir bersama kaum Muslimin dengan ragam sunnah pilihan yang menyertainya?

Jika tak ada sedih, bahkan kita menganggap melewatkan peluang itu sebagai suatu kebiasaan yang dialami oleh sebagian kaum Muslimin masa kini, mungkin saja hati kita telah mati.

Sebaliknya juga demikian. Apakah kita menyesal selepas berghibah? Apakah kita bersedih setelah melewatkan shalat berjamaah? Apakah kita justru bangga dengan dosa dan kesalahan yang kian menumpuk? Apakah diri ini mengalami sesal yang mendalam atas kealpaan diri?

Jika tak ada sesal setelah lakukan maksiat dan dosa, bisa jadi hati ini benar-benar telah mati.

Hanya kepada Allahlah kita menyembah. Dan hanya kepada Allahlah kita meminta pertolongan. [Pirman]

- Advertisement -

Terbaru

Nasehat Rasulullah Ini Mak Jleb Buat Kita di Bulan Syawal

“Ayo, mana yang lain?” Admin ODOJ mengingatkan di grup. Banyak yang belum tuntas tilawah harian. Pertengahan Syawal telah lewat, namun setoran juz...

Kisah Imam Ahmad dan Dahsyatnya Istighfar Penjual Roti

Sebelum meninggal, Imam Ahmad rahimahullah menceritakan bahwa suatu waktu dalam hidupnya, ketika usianya mulai tua, tiba-tiba muncul keinginan untuk mengunjungi satu kota...

Habis Idul Fitri Langsung Puasa Syawal, Ini Keutamaannya

Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriyah jatuh pada hari Ahad, 24 Mei 2020. Senin, 2 Syawal 1441 bertepatan dengan 25 Mei 2020,...

Lailatul Qadar Jatuh pada Malam 27 Ramadhan? Ini Dalil dan Tandanya

Lailatul Qadar jatuh pada malam berapa? Tak ada seorang pun yang bisa memastikannya. Namun ada dalil hadits yang menunjukkan secara umum, kemudian...