Buruknya Kebiasaan Raja Persia; Kawini Putri Kandungnya

Persia dan Romawi adalah dua imperium besar yang senantiasa bersaing menaklukan seluruh penjuru bumi di bawah ketiak kekuasaan mereka. Sebuah persaingan yang akhirnya didukung oleh Yahudi dan Nashrani, hingga kedua agama ini pun senantiasa bermusuhan.

- Advertisement -

Sebelum akhirnya ditundukkan oleh Islam, kekuasaan Raja Persia dan Romawi merupakan salah satu sebab rusaknya moral masyarakat dunia. Jika kehadiran Paulus menjadi sebab rusaknya Nashrani yang dekat dengan Romawi, maka Raja Persia tak kalah bobroknya.

Bayangkan saja, di kalangan Persia, seorang raja dibolehkan mengawini putri kandungnya. Setelah puas digagahi, sang putri pun dibunuh dengan sangat keji. Menyedihkan! Bertambah miris, kebiasaan buruk ini diteladani oleh rakyatnya!

Adalah Kaisar Yazdajir II yang diceritakan oleh Abul Hasan Ali an-Nadwi, “Ia berkuasa di pertengahan abad kelima Masehi. Ia mengawini putri kandungnya, lalu dibunuh (setelah dikawini).”

Bukan hanya dirinya, Kaisar Bahram Goubin pun bermakmum dan melanjutkan tindakan amoral tersebut. Lanjut Abul Hasan, “Kaisar Bahram Goubin pernah berkuasa di abad keenam dan pernah mengawini saudara perempuannya.”

Tindakan asusila ini pun menjadi kebiasaan di masyarakat itu. Alhasil, kerusakan moral merajalela. Tak bisa dibendung sebab didukung oleh pihak penguasa. Bahkan, perbuatan hina ini dianggap sebagai sebuah kebaikan yang bisa semakin mendekatkan diri mereka kepada tuhan.

Sebagai salah satu reaksinya, ada sekelompok manusia yang tak kalah salahnya hingga mengharamkan pernikahan dan mendukung membujang. Dalam logika piciknya, membujang adalah satu-satunya cara agar keturunan yang merusak itu tidak berkembang biak. Dengan demikian, kerusakan yang ditimbulkan pun akan sirna seiring terhentinya sebuah generasi.

- Advertisement -

Kebobrokan yang menjadi sebab rusaknya moral ini sudah menjadi rahasia umum dan direkam oleh banyak penulis sejarah. Selain Imam ath-Thabari yang masyhur dengan Tarikh at-Thabari-nya, seorang Pelancong Cina yang direkam dalam buku Persia di Masa Pemerintahan Keluarga Sasanid juga menyampaikan kesaksian, “Orang-orang Persia sering mengawini semua wanita tanpa pengecualian.”

Kita harus bersyukur atas kehadiran Islam. Ialah satu-satunya agama yang amat sesuai dengan fitrah penciptaan manusia. Dengan Islam, manusia dimuliakan di dunia dan kelak bahagia di akhirat. Islamlah satu-satunya agama yang paling benar, yang murni dari perubahan manusia.

Alhamdulillah atas nikmat Islam yang telah Allah Ta’ala berikan. [Pirman/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

Inilah Ayat yang Membuat Umar Masuk Islam

Kemarahan Umar bin Khattab memuncak. Ia merasa agama baru telah membuat ajaran nenek moyangnya terinjak-injak. Maka ia ambil pedang, lalu pergi untuk mengakhiri apa...

Jenazah Utuh Thalhah bin Ubaidillah Saat Makamnya Dipindah

Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu gugur sebagai syahid pada Perang Jamal. 30 tahun kemudian, saat kaum muslimin memindahkan makamnya, mereka menyaksikan sebuah keajaiban. Jenazah...

Kisah Umar Marah kepada Abu Bakar Melebihi Marahnya kepada Utsman

Umar bin Khattab pernah marah kepada beberapa sahabat, terutama Abu Bakar Ash Shiddiq. Saat itu Umar sedang berduka karena menantunya meninggal dunia sehingga putrinya...

Penasaran Hadits Ini, Istri-Istri Nabi Mengukur Panjang Tangannya

Para istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat mencintai beliau. Tak hanya ingin menemani beliau di dunia, para ummul mukminin juga ingin segera menyusul Rasulullah...