Bentuk Pengamalan dari Keyakinan Terhadap Al Malik

Asmaul husna yang ketiga adalah Al Malik. Apa makna Al Malik dan bagaimana bentuk pengamalan dari keyakinan terhadap Al Malik?

- Advertisement -

Allah Subhanahu wa Ta’ala memiliki 99 asmaul husna. Sebenarnya asmaul husna tidak terbatas 99, ada pula nama yang Allah simpan dan menjadi rahasia gaib sebagaimana hadits riwayat Imam Ahmad. Di antara 99 asmaul husna itu, salah satunya adalah Al Malik.

Makna Al Malik

Al Malik (الْمَلِكُ) artinya Maha Merajai. Maknanya, Allah berkuasa atas segala sesuatu baik dalam hal memerintah maupun melarang. Asmaul husna ketiga ini juga bermakna memiliki. Allah-lah pemilik segala sesuatu di alam semesta ini.

Dalam Tafsir Al Misbah, Quraish Shihab menjelaskan bahwa Malik (ملك) –dengan mim pendek- artinya raja. Biasanya digunakan untuk penguasa yang mengurus manusia. Sedangkan Maalik (مالك) –dengan mim panjang- artinya pemilik. Biasanya digunakan untuk menggambarkan kekuasaan sang pemilik terhadap sesuatu yang tidak bernyawa.

هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ سُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. Al Hasyr: 23)

Baca juga: Doa Iftitah Singkat

Bentuk Pengamalan Al Malik

- Advertisement -

Keyakinan terhadap Al Malik membuat kita menyadari bahwa Allah berkuasa melakukan apa pun yang Dia kehendaki. Sedangkan makhluk, yang mengaku paling kuat sekalipun, sesungguhnya tidak memiliki kekuasaan kecuali atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikian pula, keyakinan terhadap Al Malik membuat kita menyadari bahwa Dia-lah yang memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabut kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki. Dia memuliakan atau menghina siapa yang Dia Kehendaki.

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran: 26)

Dengan meyakini Al Malik, kita tidak akan takut dengan kekuasaan makhluk yang menentang perintah-Nya. Kita hanya tunduk dan menghamba kepada Allah yang Maha Merajai, penguasa dan pemilik alam semesta.

- Advertisement -

Keyakinan terhadap Al Malik membuat kita mengikat diri dengan mengikuti kebenaran kapan pun dan di mana pun kita berada. Di antaranya adalah melarang siapa saja yang seharusnya dilarang, mengangkat siapa saja yang seharusnya diangkat.

Baca juga: Bentuk Pengamalan Al Alim

Demikian pula memuliakan siapa saja yang harus dimuliakan. Memberikan makanan kepada orang yang lapar. Memberikan pakaian kepada orang yang tidak memiliki pakaian. Menegakkan keadilan dan memberikan hak kepada orang yang berhak. Wallahu a’lam bish shawab.[Muchlisin BK/Kisahikmah]

- Advertisement -

Terbaru

- Advertisment -