Beginilah Cara Allah Mengabulkan Hajat Hamba-Nya

3

Lakukanlah perencanaan teknis sebaik mungkin sebagai wujud ikhtiar. Setelahnya, kerjakan sebaik mungkin sesuai rencana, dan serahkan hasilnya kepada Allah Ta’ala. Sebab, Dia Mahatahu mana jalan terbaik untuk hamba-hamba-Nya.

Kisahnya, seorang suami-istri di daerah Bandung Jawa Barat. Bukan orang kaya atau pengusaha kelas atas. Sehari-hari hanya hidup dari berjualan di toko kecil depan rumahnya. Namun, niat dan tekadnya kuat; naik Haji berdua.

Maka, keduanya pun menabung secara disiplin demi mewujudkan niat baiknya itu. Hingga, setelah dua puluh tahun menabung, saldonya hanya lima puluhan juta. Sedangkan untuk naik Haji berdua kala itu, setidaknya membutuhkan dana tujuh puluh juta. Angka dua puluh juta pun senantiasa diupayakan oleh pasangan suami istri inspiratif ini.

Hingga pada suatu hari, salah satu tetangga yang juga jamaah masjid dekat rumahnya menderita sakit. Dirawat lama. Rupanya, sakitnya tumor. Harus dilakukan operasi pengangkatan. Biayanya lima puluh juta.

Dilema. Si sakit rupanya miskin juga. Sebab merasa dekat dan tergerak sebagai sesama muslim, sang suami pun mengusulkan kepada istrinya, “Bagaimana jika kita bantu biaya operasinya?” Mendengar ide ‘gila’ itu, sang istri terbelalak sembari mengatakan, “Haruskah tabungan kita selama dua puluh tahun ‘kandas’ dalam sehari? Dan kita gagal naik Haji?”

Setelah diskusi dari hati ke hati, qadarullah, sang istri pun sepakat. Maka, keluarga sederhana itu langsung datang ke rumah sakit untuk memberikan uang sebesar lima puluh juta agar operasi segera dilakukan karena si sakit semakin lemah tak berdaya.

Operasi dilakukan. Namun, dokter yang menangani operasi bingung. Dia bertanya kepada keluarga pasien, “Siapa yang membiayai? Bukankah kalian sempat dipindahkan ke ruangan kelas tiga karena tidak memiliki uang?”

Dari keluarga itulah sang Dokter tahu siapa ‘malaikat’ penolong yang telah menyelamatkan nyawa si sakit dengan menggelontorkan lima puluh juta secara cuma-cuma.

Yang terjadi di keluarga orang baik itu, seperti tidak ada apa-apa. Kembali berdagang dan menabung demi tercapainya niat baik itu. Bahkan, ia tidak mengingat angka lima puluh juta yang dikumpulkan puluhan tahun, tapi ‘habis’ dalam hitungan menit itu.

Suat malam, datanglah tamu agung di rumah nan sederhana itu. Sepasang suami-istri. Mengendarai mobil agak mewah. Persis saja, sang tuan rumah merasa terharu. Rupanya, yang datang adalah Dokter yang menangani operasi tumor tetangganya itu.

Bincang agak lama, kedua keluarga itu nampak akrab. Kemudian, sang Dokter menyampaikan maksud utamanya, “Begini, Pak. Kami berniat meminta doa dari bapak dan ibu sebagai orang shaleh agar kami diberi keberkahan dalam hidup.”

Sang tuan rumah dan istrinya itu hanya senyum, tak banyak bicara. “Nah,” lanjut sang Dokter, “supaya doa bapak dan ibu lebih makbul, kami akan mengajak bapak dan ibu untuk menunaikan ibadah Haji tahun ini.”

Belum usai kekagetan sepasang suami istri itu, sang Dokter menutup penuturannya dengan kalimat kepastian, “Kami yang akan menanggung semua biayanya.”

La haula wa la quwwata illa billah… Pertolongan Allah itu dekat, lebih dekat dari urat nadi. [Pirman]

Berita sebelumyaMengapa Engkau Ampuni, Padahal Aku Tidak Pernah Berdosa?
Berita berikutnyaAgar Dilimpahi Rezeki dan Didengar Doanya

3 KOMENTAR

  1. tapi kenapa ya susah banget buat bersodakoh, selalu berpikir gimana kalau uang pas2an ini di kasih orang nanti saya tidak makan, gimana ya caranya ikhlas?

  2. Subhanallah, dgn ke ikhlasan lah , Allah Swt, akan memberikan apa yg menjadikan keinginan hamba2 Nya. Yakin lah kunci Utamanya !!!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.